Rabu, 20 Mei 2015

Sensor dan Lensa


Jika sobat pernah membaca atau mendengar tentang relasi antara senosr gambar dan lensa mungkin akan terdengar sedikit membingungkan, tetapi Sobat akan terbiasa jika telah mendapatkan beberapa pengalaman. Jika Sobat memiliki Dua lensa yang identik yang bisa dipasang pada kamera dengan sensor full-frame dan APS-C, maka sobat akan melihat hasil dengan perbesaran yang berbeda.

Setiap sensor memiliki crop factor, dimana harus dikalikan dengan focal length untuk memberikan focal lenth yang efektif digunakan. Sebagai contoh: sensor APS-C memiliki crop factor 1.5x (1.6x pada Canon), dan sensor four-third memiliki crop factor 2x, jadi jika Sobat menggunakan lensa 50mm pada kamera bersensor Four-Thirds maka focal length lensa efektif adalah 100mm. Foto yang dihasilkan adalah sama dengan hasil pada 100mm pada kamera film 35mm atau sensor full-frame. Lensa 100-300mm yang digunakan pada DSLR nikon yang bersensor APS-C memiliki focal length efektif 150-450mm. Berikut ini adalah data lengkap crop factor pada setiap sensor:

    Full Frame: 1x
    APS-H: 1.3x
    APS-C: 1.5x (Nikon, Pentax, Sony)
    APS-C: 1.6x (Canon)
    Four-Thirds: 2x
    Nikon CX-Format: 2.7x
    Pentax Q: 5.5x

Kepekaan Cahaya dan Resolusi Gambar

Kepekaan Cahaya
Pada era film, ISO (Internation Standard Organisation) mewakili tingkat kepekaan terhadap film, Sistem ini juga digunalan pada sensor gambar. Semakin rendah tingkat ISO yang digunakan, maka semakin rendah kesensitifan sensor terhadap cahaya, begitu juga sebaliknya. Tetapi satu hal yang perlu diingat adalah ketika Sobat menaikkan ISO maka potensi timbulnya noise akan semakin besar pula, dan mungkin noise ini tidak Sobat inginkan. Jangkauan ISO bervariasi di setiap sensor tetapi pada umumnya ada pada range ISO 100-6400.

Beberapa kamera high-end menawarkan iso terendah sampai ke angka 50, dan ISO maksimal sampai ke 102,400, ISO tinggi tersebut mampu untuk mengambil gambar saat malam hari. Kamera kebanyakan sekarang juga telah melengkapi fiturnya dengan Noise Reduction.


Resolusi Gambar
Sebuah sensor gambar dibentuk dari jutaan pixel. Semakin banyak pixel yang dimiliki oleh sensor maka semakin tinggi resolusinya. Jutaan pixel ini dituliskan sebagai megapixel, jadi sensor 12 juta pixel akan dituliskan dengan 12 megapixel. Mungkin Sobat sering mendengar bahwa semakin besar ukuran pixel maka semakin bagus pula kualitas gambar, tapi itu adalah pendapat yang tidak sepenuhnya benar! Ukuran sensor juga memainkan peran, seperti yang telah kami sebutkan di awal bahwa pixel yang lebih besar pada sensor yang juga lebih besar pada umumnya akan memberikan kualitas yang bagus. image processor, dan optik lensa juga memiliki peran tersendiri bagi kualitas gambar.

Sensor Kamera



Sensor gambar terdapat beberapa ukuran, salah satunya adalah full-frame yang memiliki ukuran yang sama dengan frame film 35m. Pengetahuan tentang bagaimana pentingnya ukuran sensor merupakan hal yang vital dalam fotografi, mengapa? simak yuk alasan-alasan berikut:



  • Ukuran sensor gambar menentukan focal length lensa yang digunakan oleh kamera.
  • Ukuran sensor yang lebih besar pada umumnya mampu menghasilkan kualitas gambar yang lebih bagus, karena pixel lebih besar dan akan menghasilkan sedikit noise.
  • Semakin besar ukuran sensor maka harga juga akan semakin mahal.
  • Kamera yang memiliki sensor lebih besar maka akan memiliki viewfinder yang lebih besar pula.
  • Sensor berukuran besar memberikan Depth of Field yang lebih sempit jika dibandingkan denggan sensor ukuran kecil.

Sensor-sensor full-frame bisa ditemukan pada kamera model semi-pro dan pro, dan memiliki dimensi yang sama dengan frame film 35mm. Ukuran resolusi kamera full frame tersebut bisa dikatakan sangat tinggi: Canon EOS-1Ds Mk III memiliki 21.1 juta pixels, Sony Alpha 900 memiliki 24.6 megapixels, sementara Nikon D3x memiliki 24.5 juta pixels.

Sensor APS-H digunakan pada kamera EOS-1D dan sepertinya memang diperuntukkan bagi fotografer sport dan wildlife yang membutuhkan sedikit fungsi extra dari sensor ukuran kecil.APS-C merupakan ukuran sensor yang paling banyak digunakan, Sobat bisa menemukan di banyak kamera DSLR, bahkan pada kamera CSC Sony dan Samsung.Sensor Four-Third merupakan sensor terkecil dari semua sensor yang ada. Berikut ini adalah ukuran-ukuran sensor:

    Full Frame: 36x24mm
    APS-H: 28.7x19.1mm
    APS-c: 23.6x15.5mm (Nikon, Pentax, Sony)
    APS-C: 22.3x14.9mm (Canon)
    Four-Thirds: 17.3x13mm
    Nikon CX-Format: 13.2x8.8mm
    PentaxQ: 6.17x4.55mm

Selasa, 19 Mei 2015

Menghasilkan Foto Tajam & Jernih di Kondisi Low Light

Salah satu momok besar bagi fotografer pemula adalah bagaimana membuat foto yang berkualitas tinggi di kondisi cahaya yang gelap seperti di dalam ruangan atau di malam hari.

Seperti kita tahu, biasanya foto indoor/malam hari cenderung buruk dan tidak tajam karena munculnya noise/titik-titik pada foto.

Noise timbul karena setting ISO tinggi. di kamera DSLR atau compact, jika menggunakan ISO lebih tinggi dari 800, noise akan mulai muncul dan mengurangi kualitas gambar. Jika ISO diset rendah, akibatnya foto gelap atau blur akibat getaran tangan kita sendiri.

Untuk Objek Tidak Bergerak

Cara tradisional yang paling ampuh terutama untuk memotret objek yang tidak bergerak, adalah dengan tripod. Dengan mendudukkan kamera diatas tripod, kita bisa mengunakan shutter speed rendah dan ISO rendah. Akibatnya, kualitas foto jauh lebih baik.

Cara lain yang tidak seampuh tripod, tapi lumayan baik adalah mengunakan lensa atau kamera yang memiliki stabilizer (kodenya biasanya IS, VR, VC, OS, OIS, SS, dll).

Dengan stabilizer, kita dapat mengunakan shutter speed yang agak lambat untuk mengumpulkan cahaya lebih banyak tanpa
menyebabkan foto blur.

Getaran tangan kita saat membuat gambar diredam oleh mekanisme stabilizer. Mekanisme ini seperti mini tripod. Namun ada keterbatasan dari sistem stabilizer ini, yaitu tidak bisa menstabilkan kamera selama tripod.

Setiap stabilizer berbeda-beda antara kamera dan lensa, ada baiknya mencoba sendiri efektivitas dari sistem ini. Contohnya, dengan lensa Nikkor 16-35mm f/4 VR, saya mampu membuat foto yang tajam dengan shutter speed sampai dengan 1/8 detik, dan kalau Canon 100mm f/2.8 IS L Macro, saya dapat mengunakan shutter speed 1/30 detik.

Cobalah mengunakan shutter speed lambat, dan temukan shutter speed yang paling minimumdimana foto yang dihasilkan tetap tajam. Jangan percaya gambar yang di monitor kamera, tapi periksalah di layar monitor komputer/laptop dan diperbesar (zoom 100%).

Objek Bergerak

Tripod dan stabilizer memang akan sangat membantu dalam pemotretan di kondisi cahaya yang kurang baik, tapi jika kita memotret objek yang bergerak tripod tidak berdaya, karena kita mengandalkan shutter speed lambat saat memakai tripod. Shutter speed lambat tidak bisa membekukan gerakan objek yang bergerak.

Untuk mengakali kondisi tersebut, kita dapat mengunakan lensa bukaan besar. Bukaan lensa yang besar mengumpulkan lebih banyak cahaya daripada lensa dengan bukaan sedang atau kecil.

Contoh lensa berbukaan besar yaitu Nikkor 35mm f/1.8, Canon 50mm f/1.4, Sigma 18-35mm f/1.8, Tamron 24-70mm
f/2.8 VC dan lain lain, semakin kecil angka yang mengikuti 'f', semakin besar bukaannya.

Taktik lain yang bisa digunakan yaitu mengunakan kamera DSLR bersensor full frame yang permukaannya sekitar 50% lebih besar. Permukaan yang lebih besar mampu menyerap lebih banyak cahaya lingkungan sehingga kualitas foto tidak terlalu jelek di ISO tinggi.

Menurut pengalaman saya, kualitas foto di ISO 4000, setara dengan ISO 1600 di kamera DSLR biasa yang bersensor APS-C.

Satu taktik lagi yang bisa kita gunakan adalah dengan memanfaatkan flash/lampu kilat. Flash tidak bisa menjangkau daerah yang terlalu jauh atau luas seperti bukit/gunung yang jauh, tapi sangat efektif untuk menerangi objek yang dekat dengan kita seperti tanaman, manusia, flora dan fauna.

Dengan mendapatkan cahaya tambahan flash, gambar yang dihasilkan lebih jelas dan tajam. ISO pun tidak perlu diset tinggi. di dalam ruangan yang memiliki langit-langit berwarna putih dan tidak terlalu tinggi, flash (external/speedlite) dapat diarahkan ke langit-langit untuk menghasilkan cahaya yang lembut ke objek.

Implementasi Brand Jogja Istimewa Perlu Tindak Lanjut yang Berkesinambungan

Image
Beberapa waktu lalu, Pemerintah Provinsi D.I. Yogyakarta mengumumkan pencanangan logo sekaligus tagline baru bagi Yogya yang sekarang berganti menjadi Jogja Istimewa. Langkah ini dinilai sebagai terobosan yang positif guna melakukan penyegaran kembali branding Yogyakarta yang telah cukup lama vakum. Hadirnya logo baru Jogja Istimewa ini diharapkan bukan sekedar simbol namun juga membawa perubahan di bidang ekonomi, pariwisata, sosial-budaya, dan pendidikan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Yogya. Oleh karenanya, tindak lanjut pasca sosialisasi logo baru ini dinilai sangat penting. Sebab keberhasilan branding sebuah kota sangat bergantung pada sejauh mana upaya yang ditempuh untuk membumikan logo tersebut di tengah masyarakat dan stakeholder.
Sebagaimana disampaikan oleh dosen Ilmu Komunikasi UII, Iwan Awaluddin Yusuf, S.IP, MA ketika memberikan pendapatnya terkait implementasi brand Jogja Istimewa yang saat ini tengah gencar disosialisasikan oleh Pemprov DIY.
“Tantangan pasca peluncuran brand baru Jogja Istimewa ini terletak pada tahap sosialisasi logo kepada masyarakat sehingga bisa diaplikasikan ke berbagai platform yang ada. Berikutnya yang tak kalah menantang adalah bagaimana menerapkan filosofi yang terkandung di dalamnya sesuai dengan apa yang diharapkan sang perancang”, jelasnya ketika berbincang dengan Humas UII di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.
Menurutnya, untuk benar-benar bisa menyampaikan maksud filosofi yang terkandung dalam logo diperlukan sosialisasi yang intens dan berkesinambungan. “Jadi semisal ketika masyarakat Yogya ditanya orang luar atau wisatawan, apa maksud istimewa, mereka dapat memberi jawaban yang relatif seragam satu sama lain karena telah memiliki kesamaan persepsi”, ujarnya. Hal ini tentunya membutuhkan kerja keras dan kekompakan dari segenap elemen masyarakat Yogya, tidak hanya pemerintah.
Pemilihan tagline istimewa sendiri dinilainya menarik karena selain mewakili ciri khas Yogya juga cukup sederhana, berasal dari bahasa Indonesia sendiri, dan mudah diucapkan oleh siapapun termasuk wisatawan asing. Yogya ibarat Indonesia mini yang mempertemukan akar kultural dan semangat modernisme yang mampu berpadu secara harmonis.
Ia juga menjelaskan bahwa branding \sebuah kota merupakan hal lazim yang telah banyak ditempuh oleh kota-kota besar di seluruh dunia untuk berbagai kepentingan. “Branding sebagai equitas atau citra merk mencerminkan identitas dan keunikan suatu kota yang membedakannya dari kota-kota lain”, katanya.
Oleh karena itu, sebelum merumuskan branding kota perlu dilakukan mapping survey untuk memetakan keunikan kota sekaligus menjaring pendapat masyarakat lokal dan pihak eksternal akan kota itu. Ia melihat tim perancang telah cukup baik memetakan keunikan-keunikan Yogya yang kemudian difilosofikan ke dalam logo. Sedangkan puncak keberhasilan sebuah brand adalah terciptanya top of mind atau tertanamnya nama brand itu di dalam benak konsumen secara luas.

Senin, 13 April 2015

Mode Otomatis Pada Kamera





Mode AUTO :
Kami kira tidak perlu membicarakan panjang lebar tentang mode pengaturan AUTO (otomatis), mengingat hampir semua kamera digital memiliki fitur ini. Mode AUTO menginstruksikan kepada kamera agar menggunakan 'penilaian' terbaik dalam menentukan Shutter Speed, Aperture, ISO, White Balance, Fokus serta flash untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Beberapa kamera digital masih tetap memberikan kendali pada flash serta Red Eye Reduction dalam pengaturan AUTO. Mode pengaturn ini tentunya akan memberikan hasil yang relatif baik pada kebanyakan situasi dan kondisi, tetapi harap diingat Sobat butuh untuk memberitahu kamera informasi tambahan tentang jenis pemotretan yang akan diambil, sehingga hasil foto bisa sesuai dengan apa yang Sobat inginkan. Merujuk pada pernyataan tersebut, maka dibawah ini merupakan beberapa mode pengaturan kamera otomatis yang bisa memberi instruksi pada kamera tentang foto yang Sobat inginkan.

Mode Portrait :
Ketika Sobat memilih mode Portrait, maka kamera kalian akan secara otomatis memilih menggunakan Aperture atau bukaan besar (bilangan kecil) yang nantinya akan menghasilkan foto dengan background tidak fokus atau blur (contoh: atur ke Depth of Field sempit, hal ini akan memastikan subyek satu-satunya yang terfokus dan merupakan pusat perhatian dari sebuah foto). Mode Portrait bekerja maksimal ketika kalian memotret satu subyek dengan jarak yang cukup dekat (baik itu dengan zoom atau mendekat), dan jika Sobat memotret di bawah matahari cerah, kalian bisa menggunakan flash untuk menambahkan cahaya pada bagian wajah subyek.

Mode Macro :
Pengaturan Mode Macro membuat kalian bisa memotret lebih dekat kepada subyek guna memotret secara close-up. Sangat cocok untuk memotret bunga, serangga atau obyek kecil lainnya. Setiap kamera digital biasanya memiliki kemampuan yang berbeda juga, termasuk jarak fokus (biasanya antara 2 sampai 10cm untuk kamera saku). Fokus akan terasa sulit untuk didapatkan ketika Sobat menggunakan mode Macro ini, karena Depth of Field yang digunakan sangat sempit. Jagalah kamera dan obyek yang dipotret separalel mungkin, atau jika tidak Sobat akan sulit menemukan fokus. Pada pemotretan makro kemungkinan besar Sobat tidak akan menginginkan menggunakan flash Built-in yang ada pada kamera, karena akan menghasilkan foto yang terlalu terang (over exposure). Tripod sangat berperan penting dalam pemotretan makro, karena Depth of Field yang digunakan sangatlah kecil, bahkan sebuah gerakan kecil dari subyek bisa mengakibatkan gambar tidak fokus.

Mode Landscape :
Mode pemotretan ini bisa dikatakan adalah kebalikan dari mode Portrait, dimana pengaturan mode Landscape memberikan Aperture kecil (bilangan besar) untuk memastikan sebanyak mungkin bidang potret akan terfokus (Depth of Field lebar/besar). Ideal untuk memotret di ruang terbuka seperti alam bebas, terutama untuk Point of Interest (PoI) yang memiliki jarak yang berbeda dari kamera. Pada mode pemotretan ini kemungkunan besar kamera juga akan memiliki Shutter Speed lebih lambat (untuk menyeimbangkan dampak dari aperture kecil), jadi pertimbangkan untuk menggunakan Tripod atau cara lain agar memastikan kamera tidak bergerak.

Mode Sports :
Memotret obyek yang bergerak adalah fungsi utama dari mode Sports (pada beberapa kamera disebut dengan 'mode action'). Mode Pemotretan ini ideal pada setiap obyek yang bergerak seperti orang yang berolahraga, binatang, mobil dan lain-lain. Mode Sports memungkinkan untuk 'membekukan' action dengan meningkatkan Shutter Speed. Ketika memotret subyek yang bergerak cepat, Sobat juga bisa meningkatkan peluang merekam gerakan dengan menggunakan teknik Panning untuk mendapatkan efek blur.

Mode Night :
Mode ini dirasa akan sangat menyenangkan untuk digunakan dan bisa membuat foto kaya warna yang menarik. Mode Night (tekniknya bisa disebut dengan 'slow shutter sync') digunakan pada pemotretan dengan kondisi rendah cahaya (low light), dan menggunakan shutter speed yang lebih lama pada kamera untuk membantu merekam detail background tetapi juga bisa menggunakan flash untuk memberikan cahaya pada foreground (subyek). Jika Sobat ingin benar-benar menggunakan mode pemotretan ini, maka gunakannlah Tripod jika tidak maka background akan tampak blur, tetapi memungkinkan juga memotret dengan tangan kosong ketika kalian memang menginginkan blur pada BG.

Mode Movie :
Fitur mode ini merupakan 'perluasan' dari kemampuan kamera dari hanya mengambil gambar menjadi merekam gambar gerak. Kamera digital saat ini rata-rata sudah dilengkapi dengan mode Move yang bisa merekam baik itu visual maupun audio. Kualitas video pada beberapa kamera digital memang tidak setara dengan standar kamera video, tetapi mode ini memang berguna seklai ketika kalian menemukan subyek yang 'sempurna' untuk diambil menggunakan video. Satu hal yang perlu diingat adalah dengan merekam gambar bergerak atau video akan mengambil space atau ruang memori yang lebih besar daripada foto.

Mode pemotretan lain yang biasanya ada pada kamera digital adalah :


Mode Underwater: Fotografi bawah air memiliki tingkat kesulitan tersediri dalam mendapatkan exposure 
Mode Kids and Pets: Untuk memotret obyek yang bergerak relatif cepat, mode ini sepertinya akan mengingkatkan Shutter SPeed dan mengurangi shutter lag menggunakan pre fokus. 
Mode Indoor: Membantu dalam pengaturan Shutter Speed serta White Balance 
Mode Beach: Digunakan pada saat memotret pada kondisi cahaya terang (siang hari terik) 
Mode Fireworks: Digunakan untuk memotret kembang api 
Mode Panoramic: Digunakan untuk memotret pemandangan panoramic yang pada nantinya akan digabungkan menjadi satu gambar. 
Mode Foliage: Meningkatkan/meninggikan saturasi warna.

Nikon d600

Hadirnya Nikon D600 ini banyak ditunggu-tunggu penghobi fotografi maupun mereka yang menggeluti fotografi sebagai bisnis. Mengapa? Karena sebagai kamera full frame maka kualitas foto jelas tidak diragukan, lalu fitur tentu saja sudah lengkap dan yang utama adalah harganya yang tidak terlalu tinggi untuk ukuran kamera full frame. Dengan harga sedikit dibawahnya ada Canon EOS 5D mark II yang dibuat 4 tahun lalu, tidak lagi menarik untuk dibandingkan fiturnya (meski 5D mark II juga merupakan kamera yang sangat baik). D600 pun akan membuat DSLR APS-C termahal menjadi kurang menarik lagi untuk dibeli, misalnya Nikon D300s atau Canon EOS 7D. Keduanya yang dijual di kisaran 13 juta (bodi only), kini rasanya jadi terlalu mahal dan perlu segera menurunkan harga jualnya atau orang akan lebih melirik D600 ini.


Bisa dibilang D600 adalah DSLR full frame untuk semua. Profesional pun mungkin akan memakai D600 setidaknya untuk kamera cadangan, sedangkan yang hobi fotografi akhirnya bisa memiliki DSLR Nikon FX dan menikmati hasil foto terbaik dari Nikon, tanpa harus membawa kamera yang besar dan berat. 


Spesifikasi :
• sensor : 24,3 MP CMOS
• prosesor : Expeed 3
• LCD 3,2 inci, 920 ribu piksel
• RAW 14 bit
• 2016 piksel RGB metering
• 39 point AF, 9 cross type
• shutter teruji hingga 150 ribu kali jepret
• fitur HDR dan timelapse
• uncompressed HD video
• wireless flash commander memakai flash built-in
• bobot 760 gram

Review Nikon D5200


Fitur dan spesifikasi D5200 : 
• sensor 24 MP, CMOS, DX format 
• ISO 100-6.400 (bisa dinaikkan hingga 25.600) 
• burst 5 fps, HDR dari 2 foto digabung 
• LCD lipat 3 inci, 900 ribu piksel (bukan layar sentuh) 
• 39 titik AF, 9 diantaranya cross type 
• 2.016 piksel RGB metering modul 
• 95% coverage, 0.78x magnification, pentamirror OVF 
• HD 1080p, 60 fps, stereo mic Nikon D5200 ini bisa jadi adalah penantang Canon 650D yang sesungguhnya. Tapi tunggu, ada satu hal yang agak mengecewakan yaitu D5200 tetap saja tidak bisa melakukan wireless trigger untuk lampu kilat eksternal satu merk. Beda dengan Canon 650D yang sudah bisa melakukan itu, plus Canon 650D juga bisa dioperasikan dengan layar sentuh sementara D5200 ini tidak. D5200 juga tetap tidak membolehkan pemakainya untuk mengakses langsung ISO, WB atau fitur penting lainnya dengan tombol langsung, melainkan harus melalui tombol Info. Untungnya, kini D5200 menyediakan satu tombol khusus untuk mengganti Release Mode di bagian atas dekat tombol jepret, berguna bila kita ingin berganti dari Single Shot ke Continuous Shoot atau mode lain. Jadi posisi Nikon D5200 ini masih berada di tengah-tengah antara kamera pemula dan kamera kelas serius. Ditinjau dari fiturnya memang sudah lengkap dan modern, tapi dari tombol dan kendali eksternal masih belum memuaskan. Nikon D5200 cocok bagi yang mencari kamera dengan fitur menyamai kamera sekelas D7000, namun dengan bodi yang tetap kecil dan ringan, atau bagi anda yang membutuhkan live view untuk memotret atau merekam video dengan layar lipat

Minggu, 12 April 2015

Mahasiswa Dituntut Kembangkan Jiwa Technopreneur

Image
Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (KUKM), jumlah pengusaha di Indonesia saat ini hanya sekitar 1,65% dari total penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 250 juta jiwa. Jumlah tersebut masih sangat kecil jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga yang sebenarnya memiliki jumlah penduduk yang jauh lebih kecil serta sumber daya alam yang lebih sedikit dibandingkan dengan Indonesia. Untuk kawasan ASEAN, Singapura merupakan yang tertinggi dengan jumlah pengusaha sebanyak 7%, disusul Malaysia 5% dan Thailand 4%. Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc., menyampaikan data-data tersebut saat membuka Seminar Nasional Technopreneur 2015 yang diselenggarakan Laboratorium Mahasiswa (LABMA) UII dalam rangka Temu Wilayah Jawa Tengah – DIY di Ruang Auditorium Fakultas Kedokteran UII, pada hari Ahad (12/4).
Dr. Harsoyo melanjutkan,  Idealnya, untuk menjadi negara maju maka sebuah negara setidaknya  harus memiliki 2% enterpreneur dari total keseluruhan jumlah penduduknya. Dengan demikian Indonesia masih harus berjuang meningkatkan jumlah pengusahanya jika ingin menjadi negara maju.
“Kemajuan teknologi yang semakin pesat termasuk teknologi informasi juga belum mampu dimanfaatkan secara maksimal oleh para enterpreneur di Indonesia. Banyak di antara kita yang belum mengetahui cara memanfaatkan kemajuan teknologi tersebut untuk enterpreneurship, bahkan masih banyak pengusaha yang belum melek teknologi dalam mengembangkan usahanya.” Papar Dr. Harsoyo.
Berdasarkan hal tersebut, Dr. Harsoyo menilai Seminar Nasional Technoprener ini sangat penting agar memberikan inspirasi-inspirasi bagi mahasiswa yang mungkin sebelumnya belum pernah terpikirkan atau masih bingung untuk mengembangkan usaha di bidang apa. “Bagi UII, upaya-upaya pengembangan sumber daya manusia melalui peningkatan jumlah wirausaha berbasis teknologi menjadi kontribusi penting institusi UII dalam rangka menguatkan sektor perekonomian Indonesia sekaligus mengamalkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagaimana tagline UII yaitu berilmu amaliah dan beramal ilmiah.” Jelas Dr. Harsoyo.
Sebagaimana dijelaskan oleh Direktur Direktorat Pengembangan Minat Bakat dan kesejahteraan Mahasiswa (DPBMKM) UII Beni Suranto, S.T., M.Soft.Eng., dalam acara seminar tersebut juga sekaligus diadakan launching Laboratorium Mahasiswa (LABMA) UII.  “UII punya niatan membangun generasi muda yang memiliki sifat cendekia. Dengan dilaunchingnya LABMA ini kita harapkan kontribusi mahasiswa di bidang research dan pengembangan teknologi.” Ujar Beni.
Menurutnya, selama ini mayoritas proposal mahasiswa yang masuk ke DPBMKM didominasi oleh proposal-proposal kegiatan olahraga dan sebagainya, sehingga dengan peran aktif LABMA diharapkan nantinya proposal-proposal research, International Conference, pengembangan teknologi dan entrepreneurship akan semakin banyak.
Seminar yang merupakan acara penutup dari rangkaian acara TEMWIL Jateng-DIY tersebut diisi oleh beberapa pembicara berkualitas seperti Deputi Kajian dan Kebijakan MITI Dr. Dwi Handoko, M.Eng., Direktur Lembaga Research Pendawa Kencana Multi Farm Dr. Ir. Gembong Priyatmo Danudiningrat, M.Sc., dan Wakil Rektor I UII Dr. Ing. Ilya Fadjar Maharika, MA.,IAI.

Satu Lagi Buku Karya Dosen UII Terbit, Ekonomi Politik Peradaban Islam Klasik

ImageBagaimana peradaban yang pernah berjaya itu kemudian meluncur kebawah dan sepertinya belum ada tanda-tanda untuk bangkit kembali?
Demikian itu adalah salah satu kutipan kalimat yang coba ditulis oleh Suwarsono Muhammad dalam bukunya “Ekonomi Politik Peradaban Islam Klasik” yang hari ini (11/4) dibahas dalam acara Launching dan Bedah Buku bertempat di Auditorium UII Jl. Cikditiro No 1 Yogyakarta.
Acara launching dan bedah buku tersebut diselenggarakan oleh Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Muhammadiyah bekerjasama dengan Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia (UII). Menghadirkan pembicara diantaranya Suwarsono Muhammad sendiri selaku penulis buku yang saat ini masih bekerja sebagai Dosen di Fakultas Ekonomi UII, Prof. Dr. H. Musa Asy’arie (mantan Rekor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta), dan Rizal Yaya, SE., M.Sc., Ak. CA., (Wakil Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta).
Penulis buku yang juga pernah menjabat sebagai Dekan FE (1998-2005) pada kesempatan tadi menyampaikan bahwa diharapkan dari diterbitkannya buku ini dapat mengubah yang serba emosional menjadi lebih terkendali. Maksudnya bahwa orang Islam yang saat ini gelisah dengan belum juga bangkitnya peradaban yang dahulu sempat berjaya, mampu menemukan bagaimana peta jalan baru yang harus dibangun, tentu untuk mengulangi pencapaian kejayaan di masa lalu.
Ditambahkan oleh Musa Asyarie bahwa ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan untuk penulisan selanjutnya, yaitu seperti terlalu banyak kutipan yang menurut beberapa orang bisa jadi itu sulit untuk dipahami. “Namun terlepas dari itu semua, buku ini sangat bagus dan sangat berani, mengingat latar belakang penulis yang sebenarnya dari bidang ekonomi tapi bisa menulis buku peradaban Islam”, ungkapnya.

Tetap Beraktifitas dan Berpenghasilan di Masa Pensiun dengan Membenihkan Ikan Gurami dalam Galon

Image
Masa pensiun seringkali dianggap sebagai momok oleh sebagian orang. Sebab pada masa pensiun, selain penghasilan rutin sudah barang tentu berkurang, aktifitas bekerja yang biasanya menyita banyak waktu juga telah terhenti. Jika tidak disikapi dengan bijak, seseorang yang memasuki masa pensiun justru menjadi mudah dihinggapi stres yang seringkali berujung pada menumpuknya masalah kesehatan yang mempersingkat usia hidup.
Oleh karenanya, masa pensiun hendaknya dipersiapkan dengan sebaik-baiknya sehingga para pegawai dapat benar-benar siap ketika memasuki masa tersebut. Salah satu cara agar tetap bahagia di masa pensiun adalah dengan memiliki aktifitas rutin yang dapat menghasilkan pendapatan meski sekedarnya.
Sebagaimana tergambar dalam workshop Pembenihan Ikan Gurami dalam Galon yang digelar di Gedung Prof. Dr. Sardjito, kampus terpadu UII pada Jum’at (10/4). Workshop ini sengaja diadakan bagi para pegawai UII yang akan memasuki masa pensiun dengan tujuan memberi wawasan dan semangat untuk tetap berkarya meski telah memasuki masa purna tugas. Adapun pembicara workshop adalah Dr. Ir. Elang Ilik Martawijaya, MM, praktisi agribisnis sekaligus penulis buku ilmiah populer dari Bogor. Beliau banyak berkecimpung dalam usaha agribisnis, seperti jamur tiram, itik petelur, dan ikan gurami.
Sebelum masuk pada materi utama, sebelumnya Dr. Elang Ilik banyak mengulas motivasi bagi para pegawai yang akan memasuki masa pensiun. Disampaikan olehnya bahwa masa pensiun dapat dilihat dari sisi positifnya yaitu bertambahnya waktu luang dan kesempatan berkumpul bersama keluarga. “Melihat sisi ini harusnya kan sudah dapat menambah kebahagiaan, namun terkadang kita sudah terlanjur melihat yang negatifnya. Jadi terkadang ambisi yang tidak terkontrol inilah yang membuat para pensiunan mudah stres”, ujarnya.
Ditambahkan oleh Dr. Elang Ilik, pada dasarnya keinginan para pensiunan relatif universal yakni di waktu senggangnya mereka tetap ingin memiliki aktifitas dan punya sedikit tambahan penghasilan. “Maka dari itu saya sarankan para pensiun untuk menggeluti aktifitas positif, seperti berbisnis namun hendaknya usaha itu tidak memiliki risiko tinggi dan berhubungan dengan hobi atau pengalaman kerja sebelumnya”, kata pria yang sudah dua kali memasuki masa pensiun itu.
Di akhir sesi workshop, ia memperkenalkan salah satu jenis usaha agribisnis yang digelutinya yakni pembenihan ikan gurami dalam galon. Usaha ini menurutnya cocok ditekuni para pensiunan karena selain modalnya tidak terlalu besar juga peluangnya cukup menjanjikan. “Kalau membuat kolam pembenihan kan butuh biaya besar belum lagi aspek pengamanannya. Sedangkan pembenihan dalam galon bisa diusahakan di lingkungan rumah sendiri dan tidak membutuhkan ruang yang luas”, bebernya.

Rabu, 25 Maret 2015

Teknik Bulb Fotografi



Teknik Bulb adalah teknik dalam fotografi yang menggunakan kecepatan atau speed yang sangat lambat. Biasanya di kamera DSLR yang baru terdapat setingan speed bulb, yaitu dititik kecepatan paling rendah.

Contoh Foto Bulb



Berikut adalah cara atau tips dalam teknik bulb yang mungkin berguna :
• Biasanya Foto bulb dilakukan pada malam hari
• Gunakan speed rendah atau bulb, speed lebih dari 3 detik
• Karena menggunakan speed rendah, untuk mengimbangi gunakan bukaan atau nilai f besar, f11 sampai f30, gunanya agar gambar bisa terlihat detail keseluruhan tanpa depth of field dan agar cahaya tidak terlalu terang
• Karena menggunakan kecepatan rendah, agar tidak ada goncangan saat mengambil gambar agar terjadi flug atau gambar yang gerak, maka gunakanlah alat bantu berupa tripod. Kalau tidak ada tripod, alternatif lain adalah seting kamera dengan timer, dan letakan kamera di landasan yang datar dan jauh dari goncangan.

Teknik Zooming




Zooming merupakan teknik Foto Portraituntuk memberikan kesan gerak dengan mengubah panjang fokus lensa pada saat eksposure. Perubahan panjang fokus hanya dapat dilakukan dengan lensa zoom.
Untuk mendapatkan kesan gerak, Anda harus menggunakan kecepatan rana tidak lebih dari 1/30 detik. Pada saat pemotretan, dalam waktu bersamaan dengan proses eksposure, titik fokus lensa diubah dengan menarik lensa zoom ke dalam atau ke arah luar (untuk jenis zoom yang ditarik) atau dengan cara menggeser titik fokus lensa ke kiri atau ke kanan (untuk lensa zoom jenis gelang). Sebaiknya, gunakan tripod untuk menopang kamera pada saat pemotretan. Tempatkan subjek utama pada bagian tengah foto. Pada bagian ini, ketajaman gambar relatif lebih baik dari bagian lain.
Efek zooming terbaik akan diperoleh jika background memiliki kontras dan warna yang bervariasi. Besarnya efek zooming yang diperoleh tergantung pada berapa cepat gerakan tangan Anda mengubah fokus pada saat eksposure. Teknik Foto Portrait ini dapat digunakan baik pada siang hari atau pada malam hari/kondisi pencahayaan kurang. Jika pemotretan dilakukan malam hari, Anda dapat memakai waktu pencahayaan lama dan akan memperoleh efek lampu yang membentuk garis-garis panjang cahaya.

Selasa, 24 Maret 2015

TEKNIK PANNING

Teknik Panning
Panning adalah cara lain untuk memberikan kesan gerak pada foto. Ketika melakukan panning, Anda mengikuti subjek selama eksposure. Jika terlaksana dengan baik, hasilnya menjadikan subjek menjadi relatif lebih tajam dibandingkan dengan backgroundnya yang hampir sepenuhnya blur. Jarang dihasilkan subjek yang sepenuhnya tajam. Namun, beberapa bagian subjek yang mengalami blur justru memperkuat kesan gerak dari foto.

Teknik panning digunakan ketika Anda menginginkan kesan bergerak pada subjek tidak hilang .
Pemotretan panning harus terencana. Ambillah subjek yang terpisah cukup baik dari background. Cobalah temukan background yang memiliki warna cerah atau berciri jelas yang akan menghasilkan pola menarik dari warna-warna yang diblur. Pada saat pemotretan, waktu yang tepat dan halusnya gerakan kamera merupakan faktor yang sangat penting. Awali mengikuti subjek sebelum melepas rana, lepaskan rana, lakukan terus hingga terdengar suara klik rana menutup kembali. Putar seluruh badan saat mengikuti gerakan subjek, jangan melakukan hanya dengan menggerakkan kepala dan bahu saja. Panning membutuhkan kemampuan praktek, terkadang fotografer profesional pun tidak selalu berhasil dalam setiap jepretannya.
Panning menggunakan rana berkecepatan rendah, biasanya 1/15 atau 1/30. Penggunaan kecepatan rana lebih rendah membutuhkan tripod untuk mencegah timbulnya gerakan vertikal kamera yang tidak
diinginkan. Untuk mencegah overexposure dengan kecepatan rana rendah pada cuaca terang, gunakan film berkecepatan rendah.

1. Jangan gunakan tripod, untuk mengikuti arah gerakan obyek kamera harus bisa bergerak luwes
2. Set kamera pada mode Shutter Priority (S atau Tv)
3. Shutter speed yang digunakan untuk panning adalah antara 1/30 sampai dengan 1/8, jadi set kamera diantara angka tersebut
4. Cari obyek bergerak yang akan dipanning (tips: pilihlah background yang berwarna-warni untuk panning sehingga hasil blur dari background makin menarik)
5. Arahkan kamera mengikuti obyek yang bergerak dan pencet separuh tombol release untuk mengambil fokus.
6. Usahakan tangan bergerak selembut mungkin, gerakan kejut yang mendadak bisa mengakibatkan hasil foto yang tidak menarik
7. Saat tangan kita sudah ‘seirama’ dengan gerakan obyek, pencet tombol release untuk mengambil eksposur
8. Makin banyak berlatih, tangan dan mata kita akan semakin terasah!
Benda-benda bergerak seperti orang berlari, delman, sepeda motor, atau mobil dapat diambil gambarnya dalam dua cara yakni efek freeze dan efek panning. Efekfreeze akan memberikan hasil foto dari benda bergerak nampak seolah-olah dihentikan, sesuai dengan arti istilah freeze yakni pembekuan. Foto dengan efekfreeze ini mudah dibuat, yakni dengan menempatkan shutter speed yang tinggi misalnya 1/125 untuk orang berlari, 1/250 atau 1/500 untuk sepeda motor/mobil yang sedang melaju. Teknik memotretnya juga mudah yakni dengan menempatkan kamera dalam keadaan diam ketika tombol shutter dilepas. Ciri foto dengan efekfreeze objek yang bergerak maupun latarbelakangnya menjadi tampak diam atau berhenti dan terkesan gambar menjadi sangat statis tidak menunjukkan efek gerak. Sebaliknya, foto dengan efek panning akan memberikan hasil benda yang bergerak nampak sedang melaju sehingga memberikan efek dinamis yang sangat besar.

Teknik Freezing dalam Fotografi



Penggunaan rana (shutter) dengan kecepatan rendah pada subjek yang bergerak akan menimbul-kan blur yang memberi kesan gerak. Selain itu, penggunaan kecepatan tinggi juga dapat memberikan kesan gerak dengan membekukan gerakan yang sedang berlangsung, pemotretan ini lazim disebut freezing. Hasilnya adalah foto yang mem¬perlihatkan subjek foto tepat di tengah gerakan yang sedang dilakukan. Karena menggunakan kecepatan rana tinggi, gambar subjek menjadi jelas/tidak blur. Pemotretan freezing yang baik membutuhkan perencana¬an. Jika mengetahui atau dapat yang bergerak memperkirakan arah yang akan dilalui subjek, Anda dapat menentukan sudut kamera, pencahayaan, latar belakang, jarak fokus, dan eksposure. Dengan demikian, Anda dapat lebih berkonsentrasi memperhatikan subjek tersebut. Yang tidak kalah pentingnya adalah mengantisipasi puncak gerakan yang akan di freeze. Ketika Anda bekerja dengan rana berkecepatan tmggi, hampir selalu harus diimbangi dengan film berkecepatan tinggi untuk mendapatkan hasil terbaik. Film berkecepatan tinggi memungkinkan Anda mendapat diafragma besar. Hasilnya adalah depth of field (DOF) yang lebih lebar.

Teknik freezing. Membekukan subjek

Freezing Orang Loncat


Freezing Menuang air dalam Gelas

Dilihat dari kata nya sudah terlihat bahwa kata freezing artinya beku. Jadi Teknik Freezing Fotografi Adalah Teknik Fotografi yang membekukan suatu objek bergerak (dalam hasil jadi foto). Tanpa teknik, biasanya jika kita foto sebuah objek bergerak, maka hasilnya akan flug atau goyah.

Tips atau cara Teknik Freezing fotografi adalah :
-Seting sutter speed dengan kecepatan tinggi. Misal speed 1/1000 s
-Karena Kecepatan speed tinggi membutuhkan cahaya yang lebih, maka set bukaan besar, misal f3.5
-Jika masih terlihat gelap, gunakan lampu flash.

Teknik-teknik dalam Fotografi


Ada beberapa teknik di dalam fotografi, berikut ini adalah beberapa teknik fotografi yang mengutamakan permainan kecepatan rana (shuter speed):
a. Teknik dengan menggunakan kecepatan rana tinggi:
freezing
freezing adalah teknik membekukan objek yang bergerak, karena menggunakan kecepatan rana yang tinggi maka hasilnya adalah foto yang mem­perlihatkan subjek foto tepat di tengah gerakan yang sedang dilakukan. freezing tidak bisa menggunakan shuter speed yang rendah karena hasilnya akan menimbulkan blur yang memberi kesan gerak.
b. Teknik dengan menggunakan kecepatan rana rendah:
Show Action
Secara teknis, kecepatan dari teknik ini adalah dibawah 1/60s dan diafragma di angka besar (bukaan kecil). Gambar yang dihasilkan nantinya adalah semua benda yang bergerak akan terlihat blur, sedangkan benda yang diam tak bergerak akan tetap jelas seperti apa adanya.
Panning
Panning adalah teknik fotografi yang akan menghasilkan foto di mana objek yang bergerak akan terlihat jelas sedangkan objek yang diam akan terlihat blur. Ini bisa dilakukan jika si fotografer mengikuti arah objek yang bergerak ketika memotret.
Zooming
Zooming merupakan teknik yang membarikan kesan gerak dengan mengubah panjang fokus lensa pada saat exposure. Teknik ini hanya bisa dilakukan dengan menggunakan lensa zoom. Teknik ini menggunakan cara memutar lensa, baik itu zoom in maupun zoom out pada saat menekan shutter.
Bulb
Pada dasarnya, ketika shutter ditekan, maka jendela rana akan membuka dan sensor/film akan merekam gambar.Teknik bulb adalah fotografi yang caranya dengan menekan shutter terus dengan timing waktu yang sudah ditentukan. Umumnya, teknik ini digunakan untuk memotret mobil bergerak di malam hari, sehingga yang dihasilkan hanyalah garis-garis lampu yang terbentuk dari mobil yang bergerak.
Pada teknik yang menggunakan shutter speed rendah alangkah baiknya jika si fotografer menggunakan tripod untuk menghindari kamera goyang pada saat memotret.
ada pula teknik2 lain, ini adalah beberapa tekniknya:
Sebenarnya saya masih kurang mengerti dengan teknik ini, tapi saya akan coba menjelaskan teknik ini. Teknik ini merupakan teknik yang cukup menarik karena menghasilkan gambar yang unik. Dalam satu frame foto kita dapat menghasilkan foto orang yang sama dengan pose yang berbeda. Untuk menghasilkan foto ini dianjurkan menggunakan tripod agar foto yang dihasilkan tidak goyang. Sebaiknya memilih background gelap atau hitam agar penumpukan objek foto bagus dan tidak kacau.

Teknik Dasar Fotografi



Three Main Gateway

Kalau kita belajar matematika, kita akan memulai dengan 4 dasar yaitu, +,-,x,/, di photography, kita memulai dengan 3 dasar mengatur cahaya yang masuk ke sensor ataupun lebih dikenal dengan three gateway of light, three methodology, dll. Ketiga hal itu adalah Shutter Speed, Aperture, dan ISO Speed (Sensitivitas Sensor terhadap cahaya)
Shutter Speed adalah kecepatan tirai penutup sensor. Semakin lambat tirainya bergerak, semakin banyak cahaya yang masuk ke sensor,. Shutter speed yang tinggi bisa menangkap object yang bergerak cepat dengan jelas, misalnya mobil yang bergerak, sedangkan shutter speed yang lambat, bisa merekam gambar dengan lambat, sedangkan benda yang bergerak bisa kelihatan motion-nya . Untuk pemahaman cahaya yang masuk melewati kecepatan shutter, kita bisa memakai analogi jendela dan pintu jendela. Ketika kita menekan tombol shutter, pintu jendela ini akan membuka, dan menutup kembali. Ketika pintu jendelanya dibuka secara lambat, cahaya yang masuk melewati kedalam ruangan semakin banyak daripada pintu yang dibuka dengan kecepatan tinggi.



Aperture adalah lubang cahaya yang masuk ke sensor. Ukuran aperture ditentukan oleh sebuah alat yang bernama diaphragm. Cahaya yang masuk masuk dari lens, bergerak melewati aperture sebelum masuk ke sensor. Fungsi sebenarnya ukuran besar kecilnya aperture adalah untuk mengatur kedalaman ketajaman gambar. Aperture yang kecil mempunyai ketajaman yang lebih dalam sedangkan aperture yang besar memiliki kedalaman yang tidak dalam, sehingga object yang berada diluar dari kedalamanan akan kelihatan kabur. Bagaikan mainan laser, semakin kecil lubang cahaya laser, maka semakin jauh laser bisa memantulkan cahaya, dan semakin lebar lubang cahaya, maka semakin tidak jauh laser bisa memantulkan cahayanya. Kita bisa mengunakan kembali analogi jendela dan pintu jendela diatas untuk pemahaman pengaturan cahaya lewat aperture. Kalau kecepatan pintu jendela membuka dan menutup kembali itu adalah shutter speed, maka jendela itu sendiri adalah aperture karena cahaya memasuki sensor lewat jendela itu. Semakin lebarnya jendela maka otomatis cahaya yang masuk lebih banyak dan begitu juga sebaliknya.



Satu hal yang akan selalu membingungkan pemula adalah besar aperture bukan ditentukan besar f number,, tapi sebaliknya. misalnya f 2.8 adalah aperture besar sedangkan f22 adalah aperture kecil.
Kombinasi antara shutter speed dan aperture adalah kunci untuk menentukan sebuah gambar itu memliki exposure yang tepat. Ketika berada di tempat yang terang seperti outdoor, kita bisa menggunakan shutter speed yang tinggi dengan aperture yang tinggi untuk mengurangi cahaya yang berlebihan masuk kedalam sensor supaya hasil dari foto tidak terlalu terang. Sedangkan ketika berada ditempat tidak terlalu terang seperti indoor, kita bisa menggunakan Aperture yang besar dan Shutter speed yang lambat. Namun shutter speed yang lambat sangat sensitive dengan pergerakan camera. Kamera yang bergerak saat shutter speed lambat berjalan akan menyebabkan gambar yang kabur. Di situasi seperti ini, penggunaan Tripod (alat tempat camera berdiri) atau kecepatan ISO bisa menjadi solusi.
ISO Speed adalah sensitivitas sensor terhadap cahaya. Penggunaan ISO yang tinggi bisa membantu sensor menrespon cahaya dengan lebih cepat, namun semakin tinggi ISO, akan menimbulkan noise. Noise membuat gambar kelihatan tidak jernih,.






Dengan kombinasi tiga pintu masuk cahaya, kita bisa mengatur settingan cahaya sesuai situasi dan kebutuhan kita dimana fungsi Auto kadang tidak bisa melakukannya dengan benar. Kalau kita melihat object lewat viewfinder yang merupakan refleksi dari cermin, bagaimana kita mengetahui sebuah settingan itu over exposure atau kekurangan cahaya. Biasanya di Viewfinder ada meterancahaya untuk kita mengatur exposure yang tepat. Begitu juga kalau melakukan live view dari LCD

Memahami Pencahayaan
Fotografi adalah lukisan bercat cahaya. Maka, hal terpenting dalam fotografi adalah pencahayaan. Sekilas memang pencahayaan ini terkesan sulit, tapi pada dasarnya, penyetelan banyak - sedikitnya cahaya yang akan masuk dalam lensa kamera nggak begitu rumit. Kamera digital memang memiliki penyetelan cahaya secara otomatis, yang apabila di tempat terang ia akan menyesuaikan setelan rana menjadi lebih sempit sehingga hasil gambar akan normal, alias nggak berlebih cahaya (over-exposure). Tapi bagaimana di tempat gelap? Realitanya, kebanyakan kamera saku belum mampu mengatasi masalah pemotretan di tempat gelap. Dengan setelan shutter yang relatif cepat disertai dengan kondisi cahaya minim, hasil foto pasti akan buram. Solusi untuk ini tentu saja dengan memilih kecepatan rana rendah.

Memotretlah Tanpa Flash
Nggak semua tempat bisa dijadikan lokasi pemotretan sesuai keinginan kita. Di museum, misalnya, kita nggak bisa seenaknya menggunakan lampu flash saat memotret obyek. Untuk menyiasati larangan tersebut, coba setel ISO ke level yang paling tinggi, buka aperture atau diafragma selebarnya dan gunakan shutter yang lambat. Dengan setelan ini, ditambah dengan penggunaan tripod, niscaya gambar kita akan bebas dari minim cahaya dan keburaman. Bagaimana kalau nggak ada tripod? Jangan khawatir, dengan teknik dasar, hal-hal sepert ini bisa diatasi. Caranya, perhatikan lah posisi tangan saat memotret. Minimalisasi gerakan yang mampu mengaburkan gambar dengan menempelkan sedekat mungkin lengan yang memegang kamera ke badan kita, lalu teguhkan posisi badan. Memang, trik ini nggak bisa menggantikan posisi tripod 100%, tapi bisa sedikit mengurangi gerakan yang mampu mengaburkan gambar.
Hal diatas sangat mudah dipahami, sekarang konsentasikan teknik pemotretan ke pemilihan penempatan obyek dalam gambar. Umumnya pandangan seseorang akan tertumpu pada obyek yang berada di tengah. Dengan kata lain, obyek yang di posisikan berada di tengah gambar akan mudah terlihat kekurangannya. Untuk mengecoh pandangan penikmat foto, coba ubah penempatan posisi obyek supaya nggak pas di tengah gambar.

Menjelajahi Sudut
Sebaiknya jangan terpaku dengan sudut pengambilan sudut datar. Sesekali cobalah sudut pandang yang tajam dan juga sudut miring. Nantinya hasil gambar akan menarik. Masalah utama dalam fotografi salah satunya adalah keburaman. Betapapun canggihnya program manipulasi gambar, jika pada saat dipotret gambar sudah buram, akan susah untuk memperbaiki ketajaman gambar. Untuk mencegah keburaman, perhatikan selalu kecepatan shutter ketika akan memotret. Keburaman pada gambar seringkali disebabkan oleh terlalu cepatnya shutter. Idealnya, jika memotret tanpa tripod, pakailah shutter 1/125. Namun bila kita menyanggakan kamera di atas tripod, bisa pilih shutter dengan kecepatan 1/60 atau 1/30
Jangan Tantang Matahari
Hindari pengambilan gambar yang menantang matahari. Artinya, subyek foto lah yang menghadap sumber cahaya agar gambar yang di hasilkan terang. Jika sebaliknya, subyek akan terlihat gelap, sementara bidang lain di luar subyek akan terang benderang. Hasil ini bisa dianalogikan dengan suasana gerhana matahari. Memang, teknik fotografi menentang cahaya, atau sering disebut siluet, kerap dipilih para fotografer. Tapi jika teknik kita masih dalam level pemula, sebaiknya tunda dulu pengambilan gambar siluet.
Hindari Zoom Digital
Banyak bagunan-bagunan yang menarik untuk difoto. Sebisa mungkin hindari penggunaan zoom digital. Gunakan saja zoom optikal. Penggunaan zoom digital dapat mengakibatkan gambar pecah, atau terlihat jelas kotak-kotak pikselnya.