Selasa, 19 Mei 2015

Implementasi Brand Jogja Istimewa Perlu Tindak Lanjut yang Berkesinambungan

Image
Beberapa waktu lalu, Pemerintah Provinsi D.I. Yogyakarta mengumumkan pencanangan logo sekaligus tagline baru bagi Yogya yang sekarang berganti menjadi Jogja Istimewa. Langkah ini dinilai sebagai terobosan yang positif guna melakukan penyegaran kembali branding Yogyakarta yang telah cukup lama vakum. Hadirnya logo baru Jogja Istimewa ini diharapkan bukan sekedar simbol namun juga membawa perubahan di bidang ekonomi, pariwisata, sosial-budaya, dan pendidikan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Yogya. Oleh karenanya, tindak lanjut pasca sosialisasi logo baru ini dinilai sangat penting. Sebab keberhasilan branding sebuah kota sangat bergantung pada sejauh mana upaya yang ditempuh untuk membumikan logo tersebut di tengah masyarakat dan stakeholder.
Sebagaimana disampaikan oleh dosen Ilmu Komunikasi UII, Iwan Awaluddin Yusuf, S.IP, MA ketika memberikan pendapatnya terkait implementasi brand Jogja Istimewa yang saat ini tengah gencar disosialisasikan oleh Pemprov DIY.
“Tantangan pasca peluncuran brand baru Jogja Istimewa ini terletak pada tahap sosialisasi logo kepada masyarakat sehingga bisa diaplikasikan ke berbagai platform yang ada. Berikutnya yang tak kalah menantang adalah bagaimana menerapkan filosofi yang terkandung di dalamnya sesuai dengan apa yang diharapkan sang perancang”, jelasnya ketika berbincang dengan Humas UII di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.
Menurutnya, untuk benar-benar bisa menyampaikan maksud filosofi yang terkandung dalam logo diperlukan sosialisasi yang intens dan berkesinambungan. “Jadi semisal ketika masyarakat Yogya ditanya orang luar atau wisatawan, apa maksud istimewa, mereka dapat memberi jawaban yang relatif seragam satu sama lain karena telah memiliki kesamaan persepsi”, ujarnya. Hal ini tentunya membutuhkan kerja keras dan kekompakan dari segenap elemen masyarakat Yogya, tidak hanya pemerintah.
Pemilihan tagline istimewa sendiri dinilainya menarik karena selain mewakili ciri khas Yogya juga cukup sederhana, berasal dari bahasa Indonesia sendiri, dan mudah diucapkan oleh siapapun termasuk wisatawan asing. Yogya ibarat Indonesia mini yang mempertemukan akar kultural dan semangat modernisme yang mampu berpadu secara harmonis.
Ia juga menjelaskan bahwa branding \sebuah kota merupakan hal lazim yang telah banyak ditempuh oleh kota-kota besar di seluruh dunia untuk berbagai kepentingan. “Branding sebagai equitas atau citra merk mencerminkan identitas dan keunikan suatu kota yang membedakannya dari kota-kota lain”, katanya.
Oleh karena itu, sebelum merumuskan branding kota perlu dilakukan mapping survey untuk memetakan keunikan kota sekaligus menjaring pendapat masyarakat lokal dan pihak eksternal akan kota itu. Ia melihat tim perancang telah cukup baik memetakan keunikan-keunikan Yogya yang kemudian difilosofikan ke dalam logo. Sedangkan puncak keberhasilan sebuah brand adalah terciptanya top of mind atau tertanamnya nama brand itu di dalam benak konsumen secara luas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar