Rabu, 20 Mei 2015
Sensor dan Lensa
Jika sobat pernah membaca atau mendengar tentang relasi antara senosr gambar dan lensa mungkin akan terdengar sedikit membingungkan, tetapi Sobat akan terbiasa jika telah mendapatkan beberapa pengalaman. Jika Sobat memiliki Dua lensa yang identik yang bisa dipasang pada kamera dengan sensor full-frame dan APS-C, maka sobat akan melihat hasil dengan perbesaran yang berbeda.
Setiap sensor memiliki crop factor, dimana harus dikalikan dengan focal length untuk memberikan focal lenth yang efektif digunakan. Sebagai contoh: sensor APS-C memiliki crop factor 1.5x (1.6x pada Canon), dan sensor four-third memiliki crop factor 2x, jadi jika Sobat menggunakan lensa 50mm pada kamera bersensor Four-Thirds maka focal length lensa efektif adalah 100mm. Foto yang dihasilkan adalah sama dengan hasil pada 100mm pada kamera film 35mm atau sensor full-frame. Lensa 100-300mm yang digunakan pada DSLR nikon yang bersensor APS-C memiliki focal length efektif 150-450mm. Berikut ini adalah data lengkap crop factor pada setiap sensor:
Full Frame: 1x
APS-H: 1.3x
APS-C: 1.5x (Nikon, Pentax, Sony)
APS-C: 1.6x (Canon)
Four-Thirds: 2x
Nikon CX-Format: 2.7x
Pentax Q: 5.5x
Kepekaan Cahaya dan Resolusi Gambar
Kepekaan Cahaya
Pada era film, ISO (Internation Standard Organisation) mewakili tingkat kepekaan terhadap film, Sistem ini juga digunalan pada sensor gambar. Semakin rendah tingkat ISO yang digunakan, maka semakin rendah kesensitifan sensor terhadap cahaya, begitu juga sebaliknya. Tetapi satu hal yang perlu diingat adalah ketika Sobat menaikkan ISO maka potensi timbulnya noise akan semakin besar pula, dan mungkin noise ini tidak Sobat inginkan. Jangkauan ISO bervariasi di setiap sensor tetapi pada umumnya ada pada range ISO 100-6400.
Beberapa kamera high-end menawarkan iso terendah sampai ke angka 50, dan ISO maksimal sampai ke 102,400, ISO tinggi tersebut mampu untuk mengambil gambar saat malam hari. Kamera kebanyakan sekarang juga telah melengkapi fiturnya dengan Noise Reduction.
Resolusi Gambar
Sebuah sensor gambar dibentuk dari jutaan pixel. Semakin banyak pixel yang dimiliki oleh sensor maka semakin tinggi resolusinya. Jutaan pixel ini dituliskan sebagai megapixel, jadi sensor 12 juta pixel akan dituliskan dengan 12 megapixel. Mungkin Sobat sering mendengar bahwa semakin besar ukuran pixel maka semakin bagus pula kualitas gambar, tapi itu adalah pendapat yang tidak sepenuhnya benar! Ukuran sensor juga memainkan peran, seperti yang telah kami sebutkan di awal bahwa pixel yang lebih besar pada sensor yang juga lebih besar pada umumnya akan memberikan kualitas yang bagus. image processor, dan optik lensa juga memiliki peran tersendiri bagi kualitas gambar.
Sensor Kamera
Sensor gambar terdapat beberapa ukuran, salah satunya adalah full-frame yang memiliki ukuran yang sama dengan frame film 35m. Pengetahuan tentang bagaimana pentingnya ukuran sensor merupakan hal yang vital dalam fotografi, mengapa? simak yuk alasan-alasan berikut:
- Ukuran sensor gambar menentukan focal length lensa yang digunakan oleh kamera.
- Ukuran sensor yang lebih besar pada umumnya mampu menghasilkan kualitas gambar yang lebih bagus, karena pixel lebih besar dan akan menghasilkan sedikit noise.
- Semakin besar ukuran sensor maka harga juga akan semakin mahal.
- Kamera yang memiliki sensor lebih besar maka akan memiliki viewfinder yang lebih besar pula.
- Sensor berukuran besar memberikan Depth of Field yang lebih sempit jika dibandingkan denggan sensor ukuran kecil.
Sensor-sensor full-frame bisa ditemukan pada kamera model semi-pro dan pro, dan memiliki dimensi yang sama dengan frame film 35mm. Ukuran resolusi kamera full frame tersebut bisa dikatakan sangat tinggi: Canon EOS-1Ds Mk III memiliki 21.1 juta pixels, Sony Alpha 900 memiliki 24.6 megapixels, sementara Nikon D3x memiliki 24.5 juta pixels.
Sensor APS-H digunakan pada kamera EOS-1D dan sepertinya memang diperuntukkan bagi fotografer sport dan wildlife yang membutuhkan sedikit fungsi extra dari sensor ukuran kecil.APS-C merupakan ukuran sensor yang paling banyak digunakan, Sobat bisa menemukan di banyak kamera DSLR, bahkan pada kamera CSC Sony dan Samsung.Sensor Four-Third merupakan sensor terkecil dari semua sensor yang ada. Berikut ini adalah ukuran-ukuran sensor:
Full Frame: 36x24mm
APS-H: 28.7x19.1mm
APS-c: 23.6x15.5mm (Nikon, Pentax, Sony)
APS-C: 22.3x14.9mm (Canon)
Four-Thirds: 17.3x13mm
Nikon CX-Format: 13.2x8.8mm
PentaxQ: 6.17x4.55mm
Selasa, 19 Mei 2015
Menghasilkan Foto Tajam & Jernih di Kondisi Low Light
Salah satu momok besar bagi fotografer pemula adalah bagaimana membuat foto yang berkualitas tinggi di kondisi cahaya yang gelap seperti di dalam ruangan atau di malam hari.
Seperti kita tahu, biasanya foto indoor/malam hari cenderung buruk dan tidak tajam karena munculnya noise/titik-titik pada foto.
Noise timbul karena setting ISO tinggi. di kamera DSLR atau compact, jika menggunakan ISO lebih tinggi dari 800, noise akan mulai muncul dan mengurangi kualitas gambar. Jika ISO diset rendah, akibatnya foto gelap atau blur akibat getaran tangan kita sendiri.
Untuk Objek Tidak Bergerak
Cara tradisional yang paling ampuh terutama untuk memotret objek yang tidak bergerak, adalah dengan tripod. Dengan mendudukkan kamera diatas tripod, kita bisa mengunakan shutter speed rendah dan ISO rendah. Akibatnya, kualitas foto jauh lebih baik.
Cara lain yang tidak seampuh tripod, tapi lumayan baik adalah mengunakan lensa atau kamera yang memiliki stabilizer (kodenya biasanya IS, VR, VC, OS, OIS, SS, dll).
Dengan stabilizer, kita dapat mengunakan shutter speed yang agak lambat untuk mengumpulkan cahaya lebih banyak tanpa
menyebabkan foto blur.
Getaran tangan kita saat membuat gambar diredam oleh mekanisme stabilizer. Mekanisme ini seperti mini tripod. Namun ada keterbatasan dari sistem stabilizer ini, yaitu tidak bisa menstabilkan kamera selama tripod.
Setiap stabilizer berbeda-beda antara kamera dan lensa, ada baiknya mencoba sendiri efektivitas dari sistem ini. Contohnya, dengan lensa Nikkor 16-35mm f/4 VR, saya mampu membuat foto yang tajam dengan shutter speed sampai dengan 1/8 detik, dan kalau Canon 100mm f/2.8 IS L Macro, saya dapat mengunakan shutter speed 1/30 detik.
Cobalah mengunakan shutter speed lambat, dan temukan shutter speed yang paling minimumdimana foto yang dihasilkan tetap tajam. Jangan percaya gambar yang di monitor kamera, tapi periksalah di layar monitor komputer/laptop dan diperbesar (zoom 100%).
Objek Bergerak
Tripod dan stabilizer memang akan sangat membantu dalam pemotretan di kondisi cahaya yang kurang baik, tapi jika kita memotret objek yang bergerak tripod tidak berdaya, karena kita mengandalkan shutter speed lambat saat memakai tripod. Shutter speed lambat tidak bisa membekukan gerakan objek yang bergerak.
Untuk mengakali kondisi tersebut, kita dapat mengunakan lensa bukaan besar. Bukaan lensa yang besar mengumpulkan lebih banyak cahaya daripada lensa dengan bukaan sedang atau kecil.
Contoh lensa berbukaan besar yaitu Nikkor 35mm f/1.8, Canon 50mm f/1.4, Sigma 18-35mm f/1.8, Tamron 24-70mm
f/2.8 VC dan lain lain, semakin kecil angka yang mengikuti 'f', semakin besar bukaannya.
Taktik lain yang bisa digunakan yaitu mengunakan kamera DSLR bersensor full frame yang permukaannya sekitar 50% lebih besar. Permukaan yang lebih besar mampu menyerap lebih banyak cahaya lingkungan sehingga kualitas foto tidak terlalu jelek di ISO tinggi.
Menurut pengalaman saya, kualitas foto di ISO 4000, setara dengan ISO 1600 di kamera DSLR biasa yang bersensor APS-C.
Satu taktik lagi yang bisa kita gunakan adalah dengan memanfaatkan flash/lampu kilat. Flash tidak bisa menjangkau daerah yang terlalu jauh atau luas seperti bukit/gunung yang jauh, tapi sangat efektif untuk menerangi objek yang dekat dengan kita seperti tanaman, manusia, flora dan fauna.
Dengan mendapatkan cahaya tambahan flash, gambar yang dihasilkan lebih jelas dan tajam. ISO pun tidak perlu diset tinggi. di dalam ruangan yang memiliki langit-langit berwarna putih dan tidak terlalu tinggi, flash (external/speedlite) dapat diarahkan ke langit-langit untuk menghasilkan cahaya yang lembut ke objek.
Seperti kita tahu, biasanya foto indoor/malam hari cenderung buruk dan tidak tajam karena munculnya noise/titik-titik pada foto.
Noise timbul karena setting ISO tinggi. di kamera DSLR atau compact, jika menggunakan ISO lebih tinggi dari 800, noise akan mulai muncul dan mengurangi kualitas gambar. Jika ISO diset rendah, akibatnya foto gelap atau blur akibat getaran tangan kita sendiri.
Untuk Objek Tidak Bergerak
Cara tradisional yang paling ampuh terutama untuk memotret objek yang tidak bergerak, adalah dengan tripod. Dengan mendudukkan kamera diatas tripod, kita bisa mengunakan shutter speed rendah dan ISO rendah. Akibatnya, kualitas foto jauh lebih baik.
Cara lain yang tidak seampuh tripod, tapi lumayan baik adalah mengunakan lensa atau kamera yang memiliki stabilizer (kodenya biasanya IS, VR, VC, OS, OIS, SS, dll).
Dengan stabilizer, kita dapat mengunakan shutter speed yang agak lambat untuk mengumpulkan cahaya lebih banyak tanpa
menyebabkan foto blur.
Getaran tangan kita saat membuat gambar diredam oleh mekanisme stabilizer. Mekanisme ini seperti mini tripod. Namun ada keterbatasan dari sistem stabilizer ini, yaitu tidak bisa menstabilkan kamera selama tripod.
Setiap stabilizer berbeda-beda antara kamera dan lensa, ada baiknya mencoba sendiri efektivitas dari sistem ini. Contohnya, dengan lensa Nikkor 16-35mm f/4 VR, saya mampu membuat foto yang tajam dengan shutter speed sampai dengan 1/8 detik, dan kalau Canon 100mm f/2.8 IS L Macro, saya dapat mengunakan shutter speed 1/30 detik.
Cobalah mengunakan shutter speed lambat, dan temukan shutter speed yang paling minimumdimana foto yang dihasilkan tetap tajam. Jangan percaya gambar yang di monitor kamera, tapi periksalah di layar monitor komputer/laptop dan diperbesar (zoom 100%).
Objek Bergerak
Tripod dan stabilizer memang akan sangat membantu dalam pemotretan di kondisi cahaya yang kurang baik, tapi jika kita memotret objek yang bergerak tripod tidak berdaya, karena kita mengandalkan shutter speed lambat saat memakai tripod. Shutter speed lambat tidak bisa membekukan gerakan objek yang bergerak.
Untuk mengakali kondisi tersebut, kita dapat mengunakan lensa bukaan besar. Bukaan lensa yang besar mengumpulkan lebih banyak cahaya daripada lensa dengan bukaan sedang atau kecil.
Contoh lensa berbukaan besar yaitu Nikkor 35mm f/1.8, Canon 50mm f/1.4, Sigma 18-35mm f/1.8, Tamron 24-70mm
f/2.8 VC dan lain lain, semakin kecil angka yang mengikuti 'f', semakin besar bukaannya.
Taktik lain yang bisa digunakan yaitu mengunakan kamera DSLR bersensor full frame yang permukaannya sekitar 50% lebih besar. Permukaan yang lebih besar mampu menyerap lebih banyak cahaya lingkungan sehingga kualitas foto tidak terlalu jelek di ISO tinggi.
Menurut pengalaman saya, kualitas foto di ISO 4000, setara dengan ISO 1600 di kamera DSLR biasa yang bersensor APS-C.
Satu taktik lagi yang bisa kita gunakan adalah dengan memanfaatkan flash/lampu kilat. Flash tidak bisa menjangkau daerah yang terlalu jauh atau luas seperti bukit/gunung yang jauh, tapi sangat efektif untuk menerangi objek yang dekat dengan kita seperti tanaman, manusia, flora dan fauna.
Dengan mendapatkan cahaya tambahan flash, gambar yang dihasilkan lebih jelas dan tajam. ISO pun tidak perlu diset tinggi. di dalam ruangan yang memiliki langit-langit berwarna putih dan tidak terlalu tinggi, flash (external/speedlite) dapat diarahkan ke langit-langit untuk menghasilkan cahaya yang lembut ke objek.
Implementasi Brand Jogja Istimewa Perlu Tindak Lanjut yang Berkesinambungan
Beberapa waktu lalu, Pemerintah Provinsi D.I. Yogyakarta mengumumkan pencanangan logo sekaligus tagline baru bagi Yogya yang sekarang berganti menjadi Jogja Istimewa. Langkah ini dinilai sebagai terobosan yang positif guna melakukan penyegaran kembali branding Yogyakarta yang telah cukup lama vakum. Hadirnya logo baru Jogja Istimewa ini diharapkan bukan sekedar simbol namun juga membawa perubahan di bidang ekonomi, pariwisata, sosial-budaya, dan pendidikan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Yogya. Oleh karenanya, tindak lanjut pasca sosialisasi logo baru ini dinilai sangat penting. Sebab keberhasilan branding sebuah kota sangat bergantung pada sejauh mana upaya yang ditempuh untuk membumikan logo tersebut di tengah masyarakat dan stakeholder.
Sebagaimana disampaikan oleh dosen Ilmu Komunikasi UII, Iwan Awaluddin Yusuf, S.IP, MA ketika memberikan pendapatnya terkait implementasi brand Jogja Istimewa yang saat ini tengah gencar disosialisasikan oleh Pemprov DIY.
“Tantangan pasca peluncuran brand baru Jogja Istimewa ini terletak pada tahap sosialisasi logo kepada masyarakat sehingga bisa diaplikasikan ke berbagai platform yang ada. Berikutnya yang tak kalah menantang adalah bagaimana menerapkan filosofi yang terkandung di dalamnya sesuai dengan apa yang diharapkan sang perancang”, jelasnya ketika berbincang dengan Humas UII di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.
Menurutnya, untuk benar-benar bisa menyampaikan maksud filosofi yang terkandung dalam logo diperlukan sosialisasi yang intens dan berkesinambungan. “Jadi semisal ketika masyarakat Yogya ditanya orang luar atau wisatawan, apa maksud istimewa, mereka dapat memberi jawaban yang relatif seragam satu sama lain karena telah memiliki kesamaan persepsi”, ujarnya. Hal ini tentunya membutuhkan kerja keras dan kekompakan dari segenap elemen masyarakat Yogya, tidak hanya pemerintah.
Pemilihan tagline istimewa sendiri dinilainya menarik karena selain mewakili ciri khas Yogya juga cukup sederhana, berasal dari bahasa Indonesia sendiri, dan mudah diucapkan oleh siapapun termasuk wisatawan asing. Yogya ibarat Indonesia mini yang mempertemukan akar kultural dan semangat modernisme yang mampu berpadu secara harmonis.
Ia juga menjelaskan bahwa branding \sebuah kota merupakan hal lazim yang telah banyak ditempuh oleh kota-kota besar di seluruh dunia untuk berbagai kepentingan. “Branding sebagai equitas atau citra merk mencerminkan identitas dan keunikan suatu kota yang membedakannya dari kota-kota lain”, katanya.
Oleh karena itu, sebelum merumuskan branding kota perlu dilakukan mapping survey untuk memetakan keunikan kota sekaligus menjaring pendapat masyarakat lokal dan pihak eksternal akan kota itu. Ia melihat tim perancang telah cukup baik memetakan keunikan-keunikan Yogya yang kemudian difilosofikan ke dalam logo. Sedangkan puncak keberhasilan sebuah brand adalah terciptanya top of mind atau tertanamnya nama brand itu di dalam benak konsumen secara luas.
Langganan:
Postingan (Atom)