Selasa, 16 Desember 2014

Cara Merawat Kamera



1. Tas kamera. Komponen inti melindungi kamera Anda. Sebuah cara mudah dan sering murah untuk melindungi terhadap kotoran, debu dan mereka bisa jatuh tak terduga. 

2. Lens cap/Tutup Kamera. Selalu mengganti tutup pada kamera Anda jika tidak menggunakannya - debu akan mudah menetap di lensa terbuka! Kerudung lensa adalah aksesori opsional yang dialami fotografer digunakan. Mereka juga memberikan perlindungan kecil dari bahaya seperti pasir terbang.

3. Membersihkan cloth/Kain. ini harus bersih, kering dan terbuat dari bahan yang tepat. Ultrafine microfiber pembersihan kain adalah yang terbaik, mereka menghapus semua jenis debu dan partikel sekaligus, misalnya bekas jari, noda lemak, tanpa meninggalkan goresan dan noda.

Perawatan UMUM

1. Tinggalkan baterai ketika tidak menggunakan kamera untuk jangka waktu yang panjang. Hal ini dapat menghemat baterai sangat dibutuhkan untuk situasi yang lebih penting.

2. Jangan biarkan kamera Anda terkena dalam terang sinar matahari sepanjang hari. karena hal ini memanaskan segalanya, Panas dapat mematahkan / mencairkan gemuk pelumas, yang akan merembes melalui dan kerusakan hardware. Bagian kamera juga akan memperluas ketika mereka mendapatkan panas.

3. Untuk menambah ini, suhu dingin adalah tidak-pergi. Kedua temperatur yang ekstrem dapat secara permanen merusak kamera. Jauhkan kamera hangat dalam kondisi dingin, dan dingin di suhu panas.

4. Gunakan tali kamera. Ini lebih sering daripada tidak disertakan dengan kamera dan lain adalah bagian penting untuk keselamatan. Jika kecil, stylish, kamera point-and-shoot adalah apa yang Anda gunakan, mungkin ini bukan untuk Anda. Namun, dengan kamera yang lebih besar, tali diperlukan untuk menghindari konsekuensi dari saat tiba-tiba ketika kamera lepas dari tangan Anda.

Senin, 15 Desember 2014

Konsep Foto




Konsep dalam fotografi adalah a general statement of the idea behind a photograph (pernyataan suatu ide dalam sebuah foto). Pernyataan tersebut bisa dilihat dari objek sebuah foto ataupun teknik yang digunakan dalam mengambil foto.

Foto dapat dikatakan bagus jika konsep yang telah disusun oleh fotografer dapat dipahami oleh individu yang melihat foto itu. Ini merujuk pada prinsip komunikasi. Sebuah komunikasi dinyatakan efektif jika pesan dari dari komunikator dapat sampai pada komunikan dan diartikan sama dengan maksud dari komunikator itu sendiri. Ini karena memang kegiatan fotografi sendiri adalah sebuah proses komunikasi.

Maka dari itu pematangan sebuah konsep sangat diperlukan sebelum memotret sebuah objek. Dengan mematangkan ide terlebih dahulu, kita dapat mengetahui objek apa yang akan kita potret dan teknik apa yang kita gunakan sehingga dapat menguatkan pesan pada objek itu. Dan juga kita dapat mengetahui alat-alat bantu fotografi apa yang kita butuhkan untuk memotret.

Banyak foto yang dibuat dengan konsep yang cukup sederhana sehingga orang dapat dengan seketika menangkap pesan dalam foto tersebut. Namun adapaun foto yang membutuhkan pemikiran yang mendalam sebelum kita dapat menangkap pesan yang tersirat pada foto itu.

Dalam foto Komersial dan foto Jurnalistik, pesan yang kita tangkap cenderung cukup mudah. Karena jika tidak begitu maka produk (dalam foto komersial) atau berita (dalam foto jurnalistik) tidak dapat ditangkap oleh penikmat foto. Ini kemudian berpengaruh pada keberhasilan produk atau berita itu dijual.

Sedangkan pada foto Fine Art, pemaknaan foto cenderung membutuhkan pemikiran yang lebih mendalam. Karena dengan melihat objek atau teknik pemotretannya tidak cukup untuk menginterpretasi foto itu sendiri. Kadang saking sulitnya, para penikmat foto jenis ini membutuhkan bantuan sang fotografer untuk menginterpretasikan foto itu.

Ada beberapa pendapat tentang bagaimana mengkonsep sebuah foto. Ada pendapat bahwa jauh sebelum kita memotret, kita harus menyiapkan sebuah konsep yang matang. Ini memudahkan kita dalam memilih objek foto dan menggunakan teknik apa dalam foto tersebut. Selain itu dengan konsep yang matang, foto yang kita hasilkan bisa memiliki pesan yang cukup kuat.

Namun ada beberapa fotografer yang berpendapat bahwa konsep bisa saja muncul beberapa detik sebelum kita menekan tombol shutter pada kamera. Karena tentu pada saat itu kita berpikir bagaimana membingkai suatu objek. Dan disitulah pengkonsepan foto terjadi.

Jika melihat kedua pendapat ini, maka kita bisa menyimpulkan bahwa ada dua macam pengkonsepan. Yang pertama adalah pengkonsepan secara spontan yaitu pengkonsepan yang dilakukan sesaat sebelum tombol shutter ditekan. Yang kedua adalah pengkonsepan yang membutuhkan waktu yang cukup lama.

Biasanya untuk menghasilkan foto Komersial dan foto Fine Art diperlukan pengkonsepan yang cukup lama. Ide untuk menghasilkan foto-foto jenis ini memang harus digodok secara matang sebelum kemudian dieksekusi.

Foto komersial biasanya objeknya berupa sebuah barang atau jasa yang akan dipasarkan. Penggodokan konsep yang matang sangat diperlukan dalam membuat foto jenis ini.� Karena nantinya foto Komersial adalah media komunikasi produsen yang didalam foto tersebut strategi yang efektif dalam memasarkan sebuah produk.

Sedangkan pada karya foto Fine Art penggodokan konsep sangat diperlukan agar idealisme fotografer dapat tertuang dalam sebuah foto. Karena pemaknaan foto fine art sendiri perlu pemikiran yang mendalam, maka tentu saja awal lahirnya konsep itu sendiri membutuhkan pemikiran yang cukup mendalam pula.

Pengkonsepan dalam foto Jurnalistik, berbeda dengan foto Fine art atau Komersial. Dalam membuat foto jurnalistik tidak memerlukan proses pengkonsepan yang lama. Namun bukan berarti foto ini tidak butuh konsep. Meskipun kesannya spontan, akan tetapi konsep sangat perlu diperlukan untuk menghasilkan foto Jurnalistik agar nantinya dapat menghasilkan �foto yang bercerita�.

Beberapa orang menganggap bahwa konsep dalam memotret tidak wajib dibuat. Mereka menganggap bahwa konsep bisa dibuat atau bisa juga ditinggalkan. Karena menurut mereka dengan membuat konsep terlebih dahulu, dapat mempersempit ruang gerak dan kreatifitas mereka. Sehingga mereka tidak punya kesempatan untuk berkreasi. Mereka menganggap insting adalah yang paling penting. Karena dengan insting yang tajam, mereka dapat dengan mudah menemukan objek yang menarik untuk dipotret.

Namun apa yang tidak disadari adalah, sebuah konsep muncul dengan sendirinya dalam diri seorang fotografer sesaat setelah ia berniat untuk memotret. Konsep muncul tanpa kita sadari. Disaat kita menentukan kemana kita akan memotret, kamera apa yang akan kita pakai, kapan kita akan pergi dan pertimbangan lain, disaat itulah kita mengkonsep.

TAHAPAN DALAM MEMOTRET



Komposisi diatur dengan memilih point of interest dari suatu objek. Point of interest adalah sesuatu yang paling menonjol dalam sebuah objek foto. Komposisi menempati urutan pertama yang harus diperhatikan dalam tahapan memotret. Ini karena pengaturan komposisi foto hanya dapat diatur oleh fotografer sendiri dan tidak bisa digantikan oleh kamera. Ini berbeda dengan fungsi yang lain seperti fokus, kecepatan dan diafragma. Pada kamera otomatis, ketiga hal ini dapat digantikan oleh kamera.

Setelah mengatur komposisi, kita harus mengatur fokus dari objek yang akan kita foto. Point of interest adalah hal utama yang harus difokuskan. Focusing bisa dilakukan dengan memutar ring fokus pada lensa atau mengatur jarak kamera dengan objek foto.

Tahap selanjutnya adalah pengaturan kecepatan. Maksud dari kecepatan ini adalah gerakan tirai yang membuka-menutup sesuai angka yang dipilih tombol kecepatan. Semakin cepat gerakan membuka dan menutup tirai maka semakin sedikit cahaya yang masuk. Sedangkan jika gerakannya semakin lambat maka semakin banyak cahaya yang masuk. Semakin cepat atau lambatnya gerakan tirai ini ditunjukan pada angka-angka yang terdapat pada kamera.

Diafragma sering juga disebut bukaan lensa. Inilah hal terakhir dalam tahapan memotret. Last but not least, karena pengaturan diafragma juga penting agar dapat menghasilkan foto yang baik. Teorinya hampir sama dengan kecepatan yang memakai prinsip bola mata manusia. Semakin kecil bukaan lensa maka semakin sedikit cahaya yang masuk dan begitu pula sebaliknya.

Namun ada sedikit perbedaaan antara diafragma dan kecepatan. Angka yang ditunjukkan pada kamera berbanding terbalik dengan besarnya bukaan. Jadi semakin kecil angka yang ditunjukkan maka semakin besar bukaan lensanya. Sedangkan semakin besar angkanya maka semakin kecil bukaan lensanya.

Selain banyak sedikitnya cahaya, depth of field atau ruang tajam juga dapat diatur melalui diafragma ini. Teori ruang tajam adalah, semakin besar bukaan lensa maka semakin sempit ruang tajam atau objek yang dapat difokus. Sedangkan semakin kecil bukaan lensa maka semakin luas ruang tajam dari objek foto. Contoh penggunaan ruang tajam yang sempir adalah ketika kita ingin membuat foto wajah seseorang. Yang terlihat tajam hanya wajahnya saja, sedangkan backgroundnya tidak tajam.

Teori Dasar Fotografi



Teori dasar komposisi

1. Komposisi Letak 
2. Komposisi Warna 

Komposisi Letak 

Komposisi konvesional adalah obyek diletakan di tengah, baik untuk pengambilan vertikal maupun horizontal. Kemudian muncul the third rule yang bermula dari dasar teknik melukis, dimana dalam suatu bidang dibagi atas 3 bagian horizontal dan vertikal. 
The rule of third, dimasukan dalam kategori breaking the rule oleh fotografer konservatif, karena sering kali tidak ada penyeimbang di sisi yang berlawanan sehingga berkesan tidak seimbang. The third rule mulai digemari hingga sekarang sebagai salah satu jenis rule of photography dimana awalnya, masih mengikuti hukum gravitasi dan hukum sudut pandang. 

Pada perkembangannya, hukum gravitasi dan sudut pandangpun dilanggar dan malah menghasilkan foto yang unik. Dengan adanya the third rule bukan berarti hukum-hukum konservatif sudah punah, tapi cuma dianggap tidak lagi eyecatched. 

Pedoman dalam membuat konsep komposisi letak tidak ada, yang penting adalah jiwa saat membidik sudah menyatu dengan apa yang kita lihat. 

Komposisi Warna 

Semua orang suka dengan foto yang semarak dengan warna, namun foto yang selalu dikenang adalah foto yang menampilkan warna sesedikit mungkin. 
Perpaduan warna yang menarik bukan cuma antara warna kontras dan warna pastel atau perpaduan dari kedua jenis warna tersebut. Contoh warna yang menarik sebenarnya dapat kita ambil contoh dari keadaan sekeliling kita, contoh:

White or yellow on black (dan sebaliknya) keadaan gelapnya malam dengan terangnya siang atau terangnya lampu. 
Green on brown (dan sebaliknya) rumput dengan kayu (batang pohon) atau rumput kering.
Blue on white (dan sebaliknya) langit dengan awan atau pasir dengan laut.
Grey on blue (dan sebaliknya) langit dengan awan mendung 
Orange on black (dan sebaliknya) terangnya matahari sore dengan gelapnya silhouette

Teknik Fotografi


Teknik-teknik dasar pemotretan adalah suatu hal yang harus dikuasai agar dapat menghasilkan foto yang baik. Kriteria foto yang baik sebenarnya berbeda-beda bagi setiap orang, namun ada sebuah kesamaan pendapat yang dapat dijadikan acuan. Foto yang baik memiliki ketajaman gambar (fokus) dan pencahayaan (eksposure) yang tepat.

A. FOKUS

Focusing ialah kegiatan mengatur ketajaman objek foto, dilakukan dengan memutar ring fokus pada lensa sehingga terlihat pada jendela bidik objek yang semula kurang jelas menjadi jelas (fokus). Foto dikatakan fokus bila objek terlihat tajam/jelas dan memiliki garis-garis yang tegas (tidak kabur). Pada ring fokus, terdapat angka-angka yang menunjukkan jarak (dalam meter atau feet) objek dengan lensa.

B. EKSPOSURE

Hal paling penting yang harus diperhatikan dalam melakukan pemotretan adalah unsur pencahayaan. Pencahayaan adalah proses dicahayainya film yang ada dikamera. Dalam hal ini, cahaya yang diterima objek harus cukup sehingga dapat terekam dalam film. Proses pencahayaan (exposure) menyangkut perpaduan beberapa hal, yaitu besarnya bukaan diafragma, kecepatan rana dan kepekaan film (ISO). Ketiga hal tersebut menentukan keberhasilan fotografer dalam mendapatkan film yang tercahayai normal, yaitu cahaya yang masuk ke film sesuai dengan yang dibutuhkan objek, tidak kelebihan cahaya (over exposed) atau kekurangan cahaya (under exposed).

C. Bukaan Diafragma (apperture)

Diafragma berfungsi sebagai jendela pada lensa yang mengendalikan sedikit atau banyaknya cahaya melewati lensa. Ukuran besar bukaan diafragma dilambangkan dengan f/angka. Angka-angka ini tertera pada lensa : 1,4 ; 2 ; 2,8 ; 4 ; 5,6 ; 8 ; 11 ; 16 ; 22 ; dst. Penulisan diafragma ialah f/1,4 atau f/22. Angka-angka tersebut menunjukkan besar kecilnya bukaan diafragma pada lensa. Bukaan diafragma digunakan untuk menentukan intensitas cahaya yang masuk.

Hubungan antara angka dengan bukaan diafragma ialah berbanding terbalik.
"Semakin besar f/angka, semakin kecil bukaan diafragma, sehingga cahaya yang masuk semakin sedikit. Sebaliknya, semakin kecil f/angka semakin lebar bukaan diafragmanya sehingga cahaya yang masuk semakin banyak."

D. Kecepatan Rana (shutter speed)

Kecepatan rana ialah cepat atau lambatnya rana bekerja membuka lalu menutup kembali. Shutter speed mengendalikan lama cahaya mengenai film. Cara kerja rana seperti jendela. Rana berada di depan bidang film dan selalu tertutup jika shutter release tidak ditekan, untuk melindungi bidang film dari cahaya. Saat shutter release ditekan, maka rana aka membuka dan menutup kembali sehingga cahaya dapat masuk dan menyinari film.
Ukuran kecepatan rana dihitung dalam satuan per detik, yaitu: 1 ; 2 ; 4 ; 8 ; 15 ; 30 ; 60 ; 125 ; 250 ; 500 ; 1000 ; 2000 ; dan B. .Angka 1 berarti rana membuka dengan kecepatan 1/1 detik. Angka 2000 berarti rana membuka dengan kecepatan 1/2000 detik, dst. B (Bulb) berarti kecepatan tanpa batas waktu (rana membuka selama shutter release ditekan)

Hubungan antara angka dengan kecepatan rana membuka menutup ialah berbanding lurus. "Semakin besar angkanya berarti semakin cepat rana membuka dan menutup, maka semakin sedikit cahaya yang masuk. Semakin kecil angkanya, berarti semakin lambat rana membuka dan menutup, maka semakin banyak cahaya yang masuk"

E. Kepekaan Film (ISO)

Makin kecil satuan film (semakin rendah ISO), maka film kurang peka cahaya sehingga makin banyak cahaya yang dibutuhkan untuk menyinari film tersebut, sebaliknya semakin tinggi ISO maka film semakin peka cahaya sehingga makin sedikit cahaya yang dibutuhkan untuk menyinari film tersebut. Misal, ASA 100 lebih banyak membutuhkan cahaya daripada ASA 400.


Teknik Pengambilan Foto

1. Baca manual kamera. diantara lainnya mempelajari hal dibawah ini!
"kontrol, barang saklar, tombol, dan menu tidak. Setidaknya Anda harus tahu bagaimana mengubah flash on, off, dan auto, bagaimana memperbesar dan memperkecil, dan bagaimana menggunakan tombol shutter
Keterangan"Beberapa kamera datang dengan pemula panduan dicetak tetapi juga menawarkan pengguna yang lebih besar secara gratis di situs web produsen.

2. Mengatur resolusi kamera untuk mengambil foto berkualitas tinggi dengan resolusi tertinggi. Gambar resolusi rendah lebih sulit untuk mengubah digital nanti, itu juga berarti bahwa Anda tidak dapat memotong seperti antusias yang Anda bisa dengan versi resolusi tinggi (dan masih berakhir dengan sesuatu yang dicetak).

3. Mulailah dengan pengaturan kamera Anda ke salah satu mode yang otomatis. jika Anda memiliki pilihan. Paling berguna adalah "Program" atau "P" mode pada SLR digital. Abaikan saran yang bertentangan yang menunjukkan bahwa Anda mengoperasikan kamera sepenuhnya manual.

4. Ambil kamera Anda di mana-mana. Bila Anda memiliki kamera,  Anda akan mulai melihat dunia secara berbeda, Anda akan mencari dan menemukan kesempatan untuk mengambil foto besar.

Cara Mengambil Foto Agar Hasil Lebih Baik
5. Dapatkan Gambar diluar. Memotivasi diri sendiri untuk keluar dan mengambil foto di cahaya alami. Ambil 'titik dan menembak' beberapa yang normal gambar untuk mendapatkan nuansa untuk penerangan pada waktu yang berbeda dari hari dan malam. Pergi ke luar setiap saat sepanjang hari, terutama saat-saat ketika orang dengan akal sedang tidur, makan, atau menonton televisi, pencahayaan pada saat-saat sering dramatis dan tidak biasa untuk banyak orang justru karena mereka tidak pernah bisa melihatnya.

6. Jaga lensa jelas topi, jempol, tali dan penghalang lainnya. Ini dasar! ya, tapi itu dapat merusak sebuah foto sepenuhnya. Ini adalah kurang dari masalah dengan kamera digital yang modern hidup-preview, dan bahkan kurang dari masalah dengan kamera SLR. Tapi orang masih membuat kesalahan-kesalahan ini dari waktu ke waktu.

7. Atur white balance Anda. Sederhananya, mata manusia secara otomatis mengkompensasi berbagai jenis pencahayaan; putih terlihat putih kepada kami dalam hampir semua jenis pencahayaan. Sebuah kamera digital mengkompensasi ini dengan menggeser warna cara-cara tertentu.  "Sebagai contoh, di bawah tungsten (pijar) pencahayaan, maka akan menggeser warna ke arah biru untuk mengkompensasi kemerahan semacam ini pencahayaan. White balance adalah salah satu pengaturan yang paling penting, dan paling kurang dimanfaatkan, pada kamera modern. Pelajari bagaimana mengaturnya, dan apa maksud berbagai pengaturan. Jika Anda tidak di bawah cahaya buatan, "Naungan" (atau "Matahari") pengaturan adalah taruhan yang baik di sebagian besar keadaan, itu membuat untuk warna sangat hangat tampan. Jika keluar terlalu merah, itu sangat mudah untuk memperbaikinya dalam perangkat lunak nanti. "Auto", default untuk kebanyakan kamera, kadang-kadang melakukan pekerjaan yang baik, tetapi juga kadang-kadang menghasilkan warna yang sedikit terlalu dingin.

8. Mengatur kecepatan ISO lambat.  jika keadaan memungkinkan. Ini adalah kurang dari suatu masalah dengan kamera digital SLR, tetapi sangat penting untuk point-and-shoot kamera digital (yang, biasanya, memiliki sensor kecil yang lebih rentan terhadap kebisingan). Sebuah kecepatan ISO lebih lambat (angka yang lebih rendah) membuat foto kurang bising, namun memaksa Anda untuk menggunakan kecepatan rana lebih lambat juga, yang membatasi kemampuan Anda untuk memotret subyek yang bergerak, misalnya. Untuk sasaran diam dalam cahaya yang baik (atau masih subyek dalam cahaya rendah, juga, jika Anda menggunakan tripod dan lepaskan remote), gunakan sangat lambat kecepatan ISO yang Anda miliki.

Canon EOS 700D

DSLR yang dirilis ini diberi nama Canon EOS 700D. Fitur yang dimiliki oleh EOS 700D tidak jauh berbeda dengan EOS 650D.

DSLR Canon EOS 700D memiliki fitur tambahan 
seperti kecepatan shutter yang 5.0 Frames per sec, dan tidak hanya itu Canon EOS 700D juga memiliki fitur Creative Filter yang berfungsi untuk memberikan effect pada gambar langsung di kamera tersebut.

Untuk Fiturnya bisa baca dibawah ini:
Sensor
18MP CMOS
5,184 x 3,456 pixels native
Sensor cleaner
1.6x crop factor (22,3 x 14,9 mm, 26,8mm diagonal)
sRGB or Adobe RGB
Multi Shot Noise Reduction
Ukuran gambar
LARGE - RAW: 5,184 x 3,456 pixels (18 MP)
MEDIUM: 3,456 x 2,304 pixels (8 MP)
SMALL 1: 2,592 x 1,728 pixels (4.5 MP)
SMALL 2: 1,920 x 1,280 pixels (2.5 MP)
SMALL 3: 720 x 480 pixels (350 kP)
ISO
ISO 100 - 12,800
AUTO ISO 100 - 6,400
ISO untuk video 100 - 6,400
Format foto
JPG, CR2 RAW, RAW + JPG
Format video
MOV
Layar
Layar LCD 3 inci TFT (touchscreen)
170 derajat viewing angle
Auto - manual brightness control
Anti-smudge
Memory storage = SD, SDHC (SDXC)
Ukuran = 99,8 x 133,1 x 78,8 mm
Berat = 580 gram (dengan baterai)

Untuk harga yang masih dirumorkan dalam harga di indonesia adalah:
- Rp 7,2 jutaan (BO)
- Rp 8,7 jutaan dengan 18-55mm IS STM
- Rp 10 jutaan dengan 18-135mm IS STM

Kamera SLR

Kamera refleks lensa tunggal‎ (bahasa Inggris: Single-lens reflex (SLR) camera) adalah kamera yang menggunakan sistem jajaran lensa jalur tunggal untuk melewatkan berkas cahaya menuju ke dua tempat, yaitu Focal Plane dan Viewfinder, sehingga memungkinkan fotografer untuk dapat melihat objek melalui kamera yang sama persis seperti hasil fotonya. Hal ini berbeda dengan kamera non-SLR, dimana pandangan yang terlihat di viewfinder bisa jadi berbeda dengan apa yang ditangkap di film, karena kamera jenis ini menggunakan jajaran lensa ganda, 1 untuk melewatkan berkas cahaya ke Viewfinder, dan jajaran lensa yang lain untuk melewatkan berkas cahaya ke Focal Plane.

Kamera SLR menggunakan pentaprisma yang ditempatkan di atas jalur optikal melalui lensa ke lempengan film. Cahaya yang masuk kemudian dipantulkan ke atas oleh kaca cermin pantul dan mengenai pentaprisma. Pentaprisma kemudian memantulkan cahaya beberapa kali hingga mengenai jendela bidik. Saat tombol dilepaskan, kaca membuka jalan bagi cahaya sehingga cahaya dapat langsung mengenai film.

KOMPONEN KAMERA SLR


Pembidik

Salah satu bagian yang penting pada kamera adalah pembidik (viewfinder). Ada dua sistem bidikan, yaitu:
jendela bidik yang terpisah dari lensa (Viewfinder type)
bidikan lewat lensa (Reflex type).

Kamera SLR, sesuai dengan namanya (Single Lens Reflex), menggunakan sistem bidikan jenis kedua. Mata fotografer melihat subjek melalui lensa, sehingga tidak terjadiparallax, yaitu keadaan dimana fotografer tidak melihat secara akurat indikasi keberadaan subjek melalui lensa sehingga ada bagian yang hilang ketika foto dicetak. Keadaan parallax ini pada dasarnya terjadi pada pemotretan sangat close up dengan menggunakan kamera viewfinder.

Jendela Bidik

Jendela bidik merupakan sebuah kaca yang di dalamnya tercantum banyak informasi dalam pemotretan. Jendela bidik memuat penemu jarak (range-finder), pilihan diafragma, shutter speed, dan pencahayaan (exposure).

Lensa

Dalam fotografi, lensa berfungsi untuk memokuskan cahaya hingga mampu membakar medium penangkap (film). Di bagian luar lensa biasanya terdapat tiga cincin, yaitu cincin panjang fokus (untuk lensa jenis variabel), cincin diafragma, dan cincin fokus.

TIPS MEMBUAT FOTO BOKEH


Salah satu perbedaan utama antara indera mata dan lensa kamera anda adalah bahwa mata memiliki depth of field (DOF) hampir tanpa batas sementara lensa terbatas, ini membawa konsekuensi bahwa bidang fokus lensa tidaklah seluas mata. Dan fotografer terdahulu telah memutuskan untuk justru memanfaatkan kelemahan ini menjadi senjata. Lahirlah apa yang kemudian disebut bokeh.

Bokeh aslinya adalah kata dalam bahasa Jepang yang berarti ‘menjadi kabur’, jadi foto bokeh adalah karakteristik foto yang menonjolkan sebuah oyek utama yang fokusnya sangat tajam sementara latar belakang (dan atau depan) yang sangat kabur, atau dalam bahasa Inggris selective focusing. Dalam contoh foto cantik diatas (karya Sektor Dua), obyek utama muka model amatlah tajam, namun latarbelakang pintu menjadi tampak amat kabur (blur). Nah, sifat kabur inilah yang disebut bokeh. Bagaimana caranya supaya kita bisa menghasilkan foto bokeh yang seperti ini. Berikut yang bisa anda lakukan:


Pilih mode manual atau Aperture Priority – baca lebih jauh tentang mode operasi kamera disini
Pilih setting aperture sebesar mungkin.

Lihat tulisan f/x di lensa anda, semakin kecil x, semakin besar aperture dan semakin sempit bidang fokusnya
Pikirkan tentang faktor jarak, yakni jarak didepan dan dibelakang bidang obyek. Misalnya anda berdiri 1 meter didepan teman (jarak depan = 1 meter) dan anda menjatuhkan titik fokus lensa pada mukanya. Teman anda berdiri sekitar 10 meter dari background terdekat (jarak belakang = 10 meter), maka background ini akan terlihat sangat kabur. Intinya, semakin kecil jarak depan (jarak antara lensa dan obyek) dan semakin besar jarak belakang (jarak antara obyek dan background) semakin kabur backgorund anda.
Banyak berlatih dan usahakan anda membeli lensa dengan kemampuan aperture sebesar mungkin.

Tip: Jika anda memang menyukai bokeh, lensa non-zoom dengan aperture super besar adalah cara tercepat mendapat bokeh (misal: 85mm f/1.8 & 50mm f/1.8, dua lensa ini adalah lensa super cepat dan super murah juga penghasil bokeh yang luar biasa)

Minggu, 14 Desember 2014

Teknik Foto Freeze Pada Kamera SLR





Kali ini akan dijelaskan tentang freeze, dimana sangat berkaitan erat dengan shutter speed. Foto freeze bertujuan untuk mengabadikan suatu moment dengan gerakan cepat sehingga dapat tertangkap oleh kamera sebagai gambar diam, seperti foto tetesan air, ledakan, atau foto ketika orang sedang melompat dan lain sebagainya. 

Yang paling utama dalam mendapatkan foto freeze adalah mengatur shutter speed secepat mungkin ( misal 1/500 detik, 1/1000 detik, hingga 1/8000 detik ). Karena tuntutan shutter speed yang cepat, maka tentunya cahaya yang dibutuhkan sangat banyak, maka dari itu biasanya foto freeze amatir lebih banyak dilakukan di ruang terbuka pada siang hari dimana cahaya matahari bersinar terang.

 Bukan tidak mungkin untuk memperoleh foto freeze pada malam hari atau cahaya yang minim, namun peralatan pendukung mutlak diperlukan seperti flash atau bahkan lampu studio dengan kecepatan sinkronisasi yang tinggi pula.


Teknik zooming pada fotografi

Zooming merupakan teknik foto untuk memberikan kesan gerak dengan mengubah panjang fokus lensa pada saat eksposure. Perubahan panjang fokus hanya dapat dilakukan dengan lensa zoom.

Untuk mendapatkan kesan gerak, Anda harus menggunakan kecepatan rana tidak lebih dari 1/30 detik. Pada saat pemotretan, dalam waktu bersamaan dengan proses eksposure, titik fokus lensa diubah dengan menarik lensa zoom ke dalam atau ke arah luar (untuk jenis zoom yang ditarik) atau dengan cara menggeser titik fokus lensa ke kiri atau ke kanan (untuk lensa zoom jenis gelang). Sebaiknya, gunakan tripod untuk menopang kamera pada saat pemotretan. Tempatkan subjek utama pada bagian tengah foto. Pada bagian ini, ketajaman gambar relatif lebih baik dari bagian lain.

Efek zooming terbaik akan diperoleh jika background memiliki kontras dan warna yang bervariasi. Besarnya efek zooming yang diperoleh tergantung pada berapa cepat gerakan tangan Anda mengubah fokus pada saat eksposure. Teknik Foto Portrait ini dapat digunakan baik pada siang hari atau pada malam hari/kondisi pencahayaan kurang. Jika pemotretan dilakukan malam hari, Anda dapat memakai waktu pencahayaan lama dan akan memperoleh efek lampu yang membentuk garis-garis panjang cahaya.

Teknik Fotografi Outdoor

Fotografi Outdoor tentu berbeda dengan fotografi studio, tentunya Photo Outdoor memiliki keunggulan tersendiri. Meskipun didalam studio sang fotografer dapat mengatur sendiri sumber dan arah cahaya lampu kilat (blitz) namun hasil Photonya sama sekali tidak bisa menyamai hasil Photo Outdoor. Fotografi outdoor juga memerlukan kecermatan dalam memilih angle dan lokasi pemotretan untuk mendapatkan hasil Artistic Photo yang maksimal dari sisi pencahayaan.

Berdasarkan pengalaman kami, ada 4 faktor yang sangat mempengaruhi kualitas estetika karya photography yang mengandung unsur manusia sebagai point of interest.

KEMAMPUAN FOTOGRAFER

Ini adalah FAKTOR UTAMA yang menentukan kualitas sebuah karya fotografi. Photographer dituntut untuk pandai memilih sudut, menggunakan alat yang tepat, memilih lokasi, dan tentunya mahir dalam men-setting kameranya. Photographer studio belum tentu mahir di alam terbuka, jika memang anda menyukai oudoor photography pilihlah fotografer yang berpengalaman dalam memotret foto landscape / pemandangan ataupun outdoor (Wedding Photo Outdoor) . Photographer studio terbiasa dengan ketersediaan lighting yang bisa diatur sesuka hati fotografer, namun tidak demikian keadaannya untuk fotografer outdoor. Dengan kata sederhana, fotografer studio belum tentu mahir memotret outdoor, tapi fotografer outdoor pasti mampu memotret indoor (Artistic Photo Outdoor).

POSE DAN EKSPRESI

Ini adalah faktor utama yang kedua dalam sebuah karya Photo yang mengandung unsur manusia seperti Wedding Photo Outdoor. Seindah-indahnya sebuah foto jika model yang difoto tak mampu berekspresi / pose tentunya akan mengurangi keindahan hasil foto tersebut. Usahakan untuk mempelajari pose – pose dan expresi yang sederhana sebelum melakukan sesi pemotretan (Photo Artistic). Rencanakan foto pra pernikahan (Photo Wedding) jauh – jauh hari sebelum hari pernikahan anda. Yang perlu diingat adalah expresi yang baik adalah expresi alamiah yang anda rasakan setiap hari, tidak kaku dan tidak seperti dibuat-buat (Artistic Photo).

KONSEP PHOTO DAN KOSTUM YANG SESUAI

Konsep photo adalah tema dari foto itu sendiri. Contoh konsep photo (Photo Artistic) yang paling sederhana adalah tema CASUAL, dimana calon pengantin cukup mengenakan pakaian santai / casual, di foto seolah-olah mereka sedang berlibur di sebuah daerah yang menyenangkan. Sesuaikan warna kostum yang anda pakai dengan tempat dimana anda akan melakukan Artistic Photo Outdoor. Konsultasikanlah konsep foto dengan fotografer anda jauh-jauh hari sebelum sesi pemotretan dimulai.

LOKASI PEMOTRETAN

Jangan asal memilih lokasi pemotretan, pilihlah lokasi yang betul-betul indah untuk diabadikan. Jika lokasi pemotretan (Wedding Photo) kurang indah, biasanya fotografer hanya akan mengambil foto-foto secara close up karena memang backgroundnya kurang menarik. Jika memang demikian maka hasilnya tidak akan berbeda jauh dengan hasil foto studio. Cuaca di lokasi pemotretan juga berpengaruh sekali terhadap keindahan hasil akhir foto oudoor.

Macam-macam lensa kamera DSLR


  • Lensa Standar. Lensa ini disebut juga lensa normal. Berukuran 50 mm dan memberikan karakter bidikan natural.
  • Lensa Sudut-Lebar (Wide Angle Lens). Lensa jenis ini dapat digunakan untuk menangkap subjek yang luas dalam ruang sempit. Karakter lensa ini adalah membuat subjek lebih kecil daripada ukuran sebenarnya. Dengan menggunakan lensa jenis ini, di dalam ruangan kita dapat memotret lebih banyak orang yang berjejer jika dibandingkan dengan lensa standar. Semakin pendek jarak fokusnya, maka semakin lebar pandangannya. Ukuran lensa ini beragan mulai dari 17 mm, 24 mm, 28 mm, dan 35 mm.
  • Lensa Fish Eye. Lensa fish eye adalah lensa wide angle dengan diameter 14 mm, 15 mm, dan 16 mm. Lensa ini memberikan pandangan 180 derajat. Gambar yang dihasilkan melengkung.
  • Lensa Tele. Lensa tele merupakan kebalikan lensa wide angle. Fungsi lensa ini adalah untuk mendekatkan subjek, namun mempersempit sudut pandang. Yang termasuk lensa tele adalah lensa berukuran 70 mm ke atas. Karena sudut pandangannya sempit, lensa tele akan mengaburkan lapangan sekitarnya. Namun hal ini tidak menjadi masalah karena lensa tele memang digunakan untuk mendekatkan pandangan dan memfokuskan pada subjek tertentu.
  • Lensa Zoom. Merupakan gabungan antara lensa tandar, lensa wide angle, dan lesa tele. Ukuran lensa idak fixed, misalnya 80-200 mm. Lensa ini cukup fleksibel dan memiliki range lensa ang cukup lebar. Oleh karena itu lensa zoom banyak digunakan, sebab pemakai tinggal memutar ukuran lensa sesuai dengan yang dibutuhkan.
  • Lensa Makro. Lensa makro biasa digunakan untuk memotret benda yang kecil.

Perkiraan Batas Maksimum Shutter Count pada Kamera DSLR



CANON 


Pada situs the-digital-picture. com batas maksimum shutter count disebutkan sebagai Shutter Durability Rating sebagai berikut:
  • Canon EOS Rebel T1i / 500D : 100,000
  • Canon EOS Rebel T3 / 1100D : n/a
  • Canon EOS Rebel XSi / 450D : 100,000
  • Canon EOS Rebel XS / 1000D : 100,000
  • Canon EOS Rebel XTi / 400D : 50,000
  • Canon EOS Rebel XT / 350D : 50,000
  • Canon EOS 60D : 100,000
  • Canon EOS 50D : 100,000
  • Canon EOS 40D : 100,000
  • Canon EOS 30D : 100,000
  • Canon EOS 20D : 50,000
  • Canon EOS 7D : 150,000
  • Canon EOS 6D : 100,000
  • Canon EOS 5D Mark III : 150,000
  • Canon EOS 5D Mark II : 150,000
  • Canon EOS 5D : 100,000
  • Canon EOS 1D X : 400,000
  • Canon EOS 1D Mark IV : 300,000
  • Canon EOS 1D Mark III : 300,000
  • Canon EOS 1D Mark II N : 200,000
  • Canon EOS 1DS Mark III    : 300,000
  • Canon EOS 1DS Mark II : 200,000
Untuk merek-merek DSLR berikut ini batas maksimal shutter count yang sumbernya dari situsolegkikin. com/shutterlife/ disebutkan sebagai Camera Shutter Life, merupakan jumlah rata-rata berdasarkan  shutter count dari database para pengguna kamera pada situs terebut.

NIKON

Nikon D70s Shutter Life: 
Average number of actuations after which shutter is still alive: 50,085.8
Average number of actuations after which shutter died: 
71,550.7
     
Nikon D50 Shutter Life:
Average number of actuations after which shutter is still alive: 27,080.5
Average number of actuations after which shutter died: 
41,559.5
   
Nikon D80 Shutter Life:
Average number of actuations after which shutter is still alive: 41,936.3
Average number of actuations after which shutter died: 
43,498.3
    
Nikon D90 Shutter Life:
Average number of actuations after which shutter is still alive: 51,857.4
Average number of actuations after which shutter died: 
274,232.2
      
Nikon D200 Shutter Life:
Average number of actuations after which shutter is still alive: 80,349.4
Average number of actuations after which shutter died: 
114,166.8
     
Nikon D300 Shutter Life:
Average number of actuations after which shutter is still alive: 203,482.9
Average number of actuations after which shutter died: 
277,733.0
    
Nikon D3000 Shutter Life:
Average number of actuations after which shutter is still alive: 55,297.1
Average number of actuations after which shutter died: 
9,873.6
   
Nikon D5000 Shutter Life:
Average number of actuations after which shutter is still alive: 98,567.3
Average number of actuations after which shutter died: 
286,845.3
   
Nikon D3 Shutter Life:
Average number of actuations after which shutter is still alive: 171,327.2
Average number of actuations after which shutter died: 
704,487.6

SONY 
     
Sony A900 DSLR Shutter Life:
Average number of actuations after which shutter is still alive: 108,883.2
Average number of actuations after which shutter died: 
2,074,452.0
    
Sony A350 DSLR Shutter Life:
Average number of actuations after which shutter is still alive: 37,991.3
Average number of actuations after which shutter died: 
13,889.5
    
Sony A300 DSLR Shutter Life:
Average number of actuations after which shutter is still alive: 25,845.0
Average number of actuations after which shutter died: 
12,819.5
   
Sony DSLR-A100 Shutter Life:
Average number of actuations after which shutter is still alive: 26,105.6
Average number of actuations after which shutter died: 
14,582.4 

OLYMPUS

Olympus E-620 Shutter Life:
Average number of actuations after which shutter is still alive: 23,937.4
Average number of actuations after which shutter died: 
37,237.4
     
Olympus E-520 Shutter Life:
Average number of actuations after which shutter is still alive: 87,955.1
Average number of actuations after which shutter died: 
375,358.1
     
Olympus E-500 Shutter Life:
Average number of actuations after which shutter is still alive: 35,806.7
Average number of actuations after which shutter died: 
23,205.8

     
Olympus E-420 Shutter Life:
Average number of actuations after which shutter is still alive: 29,029.4
Average number of actuations after which shutter died: 
7,271.0
     
Olympus E-400 Shutter Life:
Average number of actuations after which shutter is still alive: 27,692.0
Average number of actuations after which shutter died: 
27,253.5
     
Olympus E-300 Shutter Life:
Average number of actuations after which shutter is still alive: 24,310.3
Average number of actuations after which shutter died: 
29,957.4